Editor’s note :
Creasionbrand
adalah Creative Sales & Brand Consultant. Sederhananya yang kami
kerjakan adalah membantu klien2 kami meningkatkan potensi penjualannya
dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif melalui aktivitas membangun
Brand & Creative Sales, baik melalui aktifitas on line maupun
offline. Kata orang tak kenal maka tak sayang, jadi untuk kenal lebih
jauh bisa kunjungi web (
www.creasionbrand.co.id) dan blog kami (
www.creasionbrand.blogspot.com), atau bisa juga contact kami untuk sekedar ngupi2 santai
Euforia Fast & Furious 6 pada akhirnya menyeret saya juga yang
penasaran dengan kelanjutan cerita Toretto and the gank. Selain itu
kehebohan berita tentang akting Joe Taslim (aktor Indonesia yang
memiliki kesempatan untuk bisa ikut bermain di film itu) menambah bumbu
penasaran terhadap film ini. Orang Indonesia pastinya bangga dengan
kehadiran Joe Taslim di film ini, walaupun bukan sebagai main character,
tapi kehadiran Joe Taslim di film ini cukup bisa membuat kita yang
menonton puas dengan porsi kemunculannya.
Euforia Fast & Furious memang cukup dahsyat, terbukti saking
banyak disukai nya serial ini sampai juga di film ke 6, bahkan jika kita
menonton sampai habis, di bagian akhir film, diselipkan lah sebuah
adegan yang memberikan teaser/pancingan sekaligus pemberitahuan bahwa
aksi Toretto and the gank masih akan berlanjut di seri ke 7, tidak
tanggung-tanggung teaser itu dibalut dengan kemunculan Jason Statham
(aktor laga Amerika yang cukup tenar & disukai).
Setelah menonton film ini, saya justru lebih “terpikat” pada sepak
terjang pimpinan sang tokoh antagonis, Owen Shaw. Dengan semua strategi
dan prinsip yang dimiliki nya sebenarnya bisa dikatakan misi yang
dilakukan nya nyaris berhasil (ya kalo di film kan ga mungkin sisi
antagonis ini menang, ya pasti Toretto lah yang harus menang).
Prinsip-prinsip yang dilakukan Owen Shaw justru lebih mirip pebisnis,
walaupun ada beberapa hal “licik” yang tidak baik juga untuk dicontoh,
tapi kalau boleh sedikit membahas, berikut beberapa poin penting yang
mungkin bisa kita pelajari dari Owen Shaw.
Oh, ya sebelum membaca lebih lanjut, bagi yang belum menonton film
ini, sebaiknya tidak meneruskan membaca, karena ada beberapa spoiler di
tulisan2 saya
1. Never underestimate your enemy
Di bagian awal film kita sudah diberikan gambaran betapa kuatnya tim
Owen Shaw dalam hal strategi & perencanaan, mereka dengan mudah nya
bisa mengecoh dan melumpuhkan para DSS Agent (polisi), bahkan tidak
sulit mengalahkan tim Toretto, dan kabur bagai asap dari kejaran polisi
yang dibantu dengan tim Toretto.
Walaupun dalam kondisi “di atas angin”, saya sangat suka dengan
pemikiran Shaw pada saat memberikan informasi tentang komposisi tim
Toretto kepada tim nya, kurang lebih perkataannya seperti ini: “Jangan
pernah kita menyepelekan kekuatan lawan kita, atau kita yang akan
menjadi lemah menghadapi mereka”. Dalam bisnis dan usaha, kita memiliki
competitor dan banyak rintangan dalam melakukan penjualan dan
melancarkan bisnis kita, namun pada saat kondisi perusahaan “di atas
angin” mungkin kita harus belajar dari prinsip Shaw, tidak pernah
menyepelekan competitor dan iklim bisnis, karena perubahan sedikit saja
bisa jadi merubah langkah bisnis kita kedepan: bertahan, adaptasi
(berubah) atau mati.
2. Cerdik melihat peluang
Salah satu alasan tim Toretto mau membantu Hobbs adalah karena
“umpan” adanya Letty (kekasih Dominic Toretto, yang di film ke 4
diceritakan telah meninggal) yang ternyata masih hidup dan bekerja sama
di tim Shaw. Diceritakan juga ternyata pada saat Shaw mendatangi Letty
di Rumah Sakit (setelah mobil Letty meledak dan membuat Letty
meninggal), pada awalnya Shaw berniat untuk membunuh Letty, tapi karena
Letty kehilangan ingatan, dan mempertimbangan skill (kemampuan) Letty,
maka akhirnya Shaw malah merekrut Letty untuk bergabung di tim nya.
Keputusan untuk meng hire Letty dengan segala kondisi nya adalah
keputusan cepat yang dibuat oleh Shaw, dalam bisnis pun seperti itu,
seringkali kita harus mengambil keputusan yang cepat dan juga mengubah
strategi untuk mengubah kekuatan competitor kita menjadi kekuatan kita.
Teman pebisnis saya pernah melakukan hal yang mirip seperti ini, dia
merekrut marketing kartu kredit yang seringkali menelpon nya menjadi
marketing perusahaan nya, hahahahaaaa…. daripada memusuhi marketing
kartu kredit, mengapa kita justru tidak berpikir untuk menghire nya?
Toh… secara skill dan mental menjual mereka sudah sangat teruji, hanya
saja kita memang harus lebih hati-hati dalam hal term & condition,
salah-salah malah sang marketing yang bisa membocorkan rahasia
perusahaan kita kepada pesaing.
3. Intelijen / riset adalah poin ampuh
Salah satu hal yang tidak saya duga adalah keberpihakan DSS Agent,
Riley, partner agent Hobbs yang semula ada di pihak yang sama dengan
Toretto, kemudian ternyata adalah intelijen Shaw. Di sini kita
disadarkan pentingnya intelijen dan riset dalam menyusun sebuah
planning, informasi sekecil apapun, akan sangat berpengaruh terhadap
strategi yang kita susun.
Tidak heran jika ternyata langkah yang diambil oleh DSS selalu bisa
ditanggulangi oleh tim Shaw, strategi yang di eksekusi pun selalu
membuat tim Shaw sedikit lebih unggul. Tentu nya hasil intelijen dan
riset harus juga di bantu dengan timing yang tepat. Jika kita ingin
membuka bisnis milyaran, mungkin riset yang harga nya ratusan juta
“terasa” mahal di awal, tapi pernahkah kita berpikir, bahwa tanpa riset
yang hanya berharga ratusan juta itu, bisnis milyaran kita bisa jadi
justru menuju kehancuran tanpa hasil riset.
4. Blue Ocean Strategy
Dalam adegan penyerangan konvoi pemindahan komponen nuklir yang ingin
dicuri oleh Shaw, kita bisa melihat, bahwa agen DSS hanya bertindak
sesuai protokol (sesuai prosedur), dan hal inilah yang telah di prediksi
oleh Shaw, dengan membuat DSS berpikir bahwa tim nya akan menyerang
pangkalan militer (yang sudah dijaga ketat), maka secara protokol,
komponen nuklir itu dipindahkan ke “lokasi aman”, sementara agen DSS
lain menunggu serangan ke pangkalan militer.
Dalam bisnis kita seringkali melihat peluang “me too” dimana ada
sebuah produk ataupun campaign yang sukses, seketika itu juga akan
tumbuh subur KW-KW nya atau produk2 “me too” nya dengan harga yang lebih
murah. Protokol itu juga yang seolah-olah menjadi rumus bagi pebisnis
yang masuk di Red Ocean, pasar sudah teredukasi, maka tinggal berusaha
“merebut” pasar yang ada, daripada berpikir untuk menyerang pangkalan
militer, Shaw malah berencana untuk menyerang konvoi yang mengawal
komponen nuklir, mengapa? Secara jumlah personil dan peralatan sudah
pasti jauh lebih sedikit dan lebih mudah untuk dikalahkan, dibanding
menyerang pangkalan militer.
5. Bongkar pasang tim
Apa yang terjadi jika jam tangan atau peralatan elektronik kita
rusak? Pasti nya teknisi akan melihat masalah nya apa, dan jika ada
komponen yang rusak dan tidak bisa diperbaiki, maka akan diganti dengan
komponen baru, agar sistem alat elektronik kita bisa berfungsi dengan
baik. Prinsip ini juga yang sangat dipegang teguh oleh Shaw, daripada
mengurus anggota tim nya yang sudah bisa bekerja dengan baik, Shaw lebih
suka untuk membongkar pasang tim nya, agar bisa beroperasi dan berjalan
dengan fungsi masing-masing.
Dalam menagani klien, kami seringkali dihadapkan pada dilema family
business, beberapa hambatan yang sering terjadi adalah ada posisi-posisi
penting yang secara skill kurang cocok dan kurang maksimal, namun
dilema nya person in charge tidak bisa diganti karena kedekatan dengan
keluarga pemilik ataupun founder. Dan hal ini seringkali membuat roda
kinerja perusahaan menjadi melambat. Tapi keputusan untuk mengganti
harus dibuat, tapi mungkin bukan seperti Shaw yang “melenyapkan” tim nya
yang sudah tidak berfungsi dengan baik, tapi mungkin yang bisa
dilakukan adalah memindahkan person tersebut ke posisi yang memang lebih
membutuhkan keahlian orang tersebut.
6. Konsisten
Konsisten melakukan sistem, planning dan strategi yang telah dibuat.
Shaw sangat konsisten untuk mejalankan prinsip nya, dimana jika ada
anggota tim yang sudah tidak bisa berfungsi secara benar, maka orang
tersebut harus diganti, apapun alasannya, dengan begitu misi yang
dijalankan akan selalu berhasil.
Dalam bisnis kita seringkali membuat planning dan strategi untuk
mencapai tujuan kita, tapi yang seringkali dilupakan oleh kita adalah
komitmen dan konsistensi. Pada saat menyusun planning dan strategi
kadangkala kita masih sangat ber api-api untuk melaksanakan, tapi karena
satu dan lain hal terkadang kita sering mentoleransi diri untuk
istirahat sebentar. Ketidak konsistenan seperti ini lah yang bisa
membuat sebuah bisnis seperti berjalan di tempat. Jika kita ingin tujuan
kita tercapai, maka konsisten lah.
So… ride or die?
di plek dari alamat:..
http://startupbisnis.com/6-lessons-from-antagonist-fast-furious-6/