Sabtu, 29 Juni 2013

7 Kebiasaan para Super-Networker

Kemampuan untuk membangun network merupakan salah satu aset terpenting dalam bisnis. Hal ini memungkinkan seseorang menemukan kesempatan yang luar biasa, selagi yang lain hanya menonton dari samping.
Networking yang efektif bukan hasil dari keberuntungan, dibutuhkan kerja keras dan ketekunan. Apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang super networker? Berikut adalah tujuh kebiasaan yang harus dilakukan:
1.    Tanyakan pertanyaan yang insightful.
Sebelum menghadiri acara networking, carilah nama orang-orang yang berkemungkinan datang. Hal ini bisa dilakukan di social media seperti LinkedIn untuk mengetahui topik apa yang mungkin paling menarik untuk mereka. Untuk orang-orang yang sudah ada dalam network Anda, jangan berasumsi bahwa Anda mengetahui apa yang mereka inginkan. Cari tahu apa yang sedang mereka kerjakan atau usahakan. Perhatian pada detail seperti ini bisa berefek panjang pada pertemuan selanjutnya saat makan siang atau meeting sambil dinner.
2.    Tambahkan ‘value’
Salah satu cara paling powerful saat melakukan networking adalah memberikan suatu value pada koneksi baru kita. Artinya Anda mengidentifikasi sebuah cara untuk membantu orang lain. Contohnya, jika Anda mengenal seseorang yang bisa membantu kenalan baru Anda, maka Anda harus membuat kedua orang tersebut saling berkenalan.
3.    Pelajari Cerita Mereka
Bertanyalah pada entrepreneur yang sukses tentang cara mereka bisa menjadi seperti sekarang. Mendengar cerita ini bisa membuat Anda mengerti tentang pendekatan yang dilakukan seseorang dalam bisnis. Semakin Anda mengerti mentalitas yang dimiliki seseorang, maka Anda akan lebih mudah untuk menambah atau mengambil nilai dari hubungan Anda.
Sebagai contoh, beberapa entrepreneur membanggakan fakta bahwa mereka bekerja 16 jam dalam satu hari dan rela melakukan apapun yang diperlukan, selagi yang lain berfokus pada strategi dan menunggu kesempatan. Ini adalah tanda-tanda yang yang memungkinkan Anda untuk melihat value yang dimiliki orang lain, tapi juga bagaimana rasanya jika bekerja bersama mereka.
4.    Bagikan fakta yang memorable
Saat seseorang bertanya “Apa yang Anda kerjakan?” jangan berikan jawaban standar tentang perusahaan dan karir Anda. Sebutkan hal-hal personal yang benar-benar mendefinisikan diri Anda. Mungkin Anda memiliki passion untuk memainkan sebuah instrumen, atau obsesi mengumpulkan barang antik. Hal-hal tersebut juga merupakan “sesuatu yang Anda kerjakan,” jadi cobalah untuk menceritakannya. Detail-detail yang bersifat personal bisa membantu meningkatkan mood dan memulai percakapan.
5.    Siapkan sebuah daftar
Apa rutinitas yang Anda miliki setelah menghadiri sebuah acara networking? Jika jawabannya adalah “saya pulang,” maka mungkin Anda sudah kehilangan kesempatan. Tuliskan topik-topik penting yang muncul dalam acara tersebut. Kebiasaan ini bisa membantu mencegah hilangnya kesempatan dan memberi Anda referensi bahan pembicaraan dalam pertemuan berikutnya. Anda juga bisa membangun reputasi sebagai seseorang yang pandai melakukan follow up.
6.    Buatlah janji-janji kecil dan penuhilah
Tidak perduli seberapa kecilnya janji Anda, seperti mengirimkan email atau menelepon, melakukan janji tersebut akan merefleksikan karakter Anda. Dengan menepati kata-kata sendiri, Anda mulai membangun reputasi sebagai orang yang bisa dipercaya , yang merupakan status yang diinginkan setiap networker hebat.
7.    Berikan hadiah untuk ‘power contact’ Anda
Tuliskan dalam sebuah daftar, kelima atau kesepuluh orang teratas dalam partner networking Anda dan lakukan hal-hal tertentu untuk memberikan nilai lebih dalam kehidupan atau bisnis mereka. Anda mungkin bisa mengirimkan buku untuk mereka, atau mengatur acara makan siang untuk mengenalkan mereka pada relasi Anda yang lain. Kebiasaan ini bisa membantu Anda menjadi proaktif untuk tetap berhubungan dengan kontak Anda yang paling powerful. Sama halnya dengan fitness dan investasi, orang-orang yang paling sukses adalah mereka yang konsisten dengan apa yang mereka lakukan.

DI PLEK DARI ALAMAT:..
http://startupbisnis.com/7-kebiasaan-para-super-networker/

Konsep Apa yang Berjalan Baik di Facebook tetapi Tidak di Google ?

sisi di kantor facebook Editor’s note : Apakah perbedaan dari Google dan Facebook ? Edmond Lau, ex engineer di Google search memiliki pandangan yang unik dan telah divalidasi oleh rekan-rekannya.

Google dan Facebook adalah dua perusahaan yang sangat inovatif, profitable dan banyak mengubah cara manusia mendapatkan informasi. Menariknya, terdapat perbedaan cara dan prinsip keduanya yang bisa saja membawa perbedaan kepada masa depan keduanya.
Filosofi organisasi terbesar yang bekerja baik di Facebook tetapi tidak berjalan di Google adalah prinsip  “Move fast and break things.”  Dalam form S-1 yang disubmit Zuckerberg kepada SEC sebelum IPO, ia mengatakan “Jika kamu tidak menabrak apapun, kamu mungkin tidak bergerak cukup cepat”.
Sedangkan di Google menganut prinsip : “If you break something, would be that you didn’t do enough testing”,  jika kamu menabrak sesuatu, mungkin kamu tidak cukup melakukan testing.
Hal ini diterjemahkan menjadi beberapa perbedaan dari segi operasional :
  • Engineer di Facebook bisa mendapatkan iterasi produk *) lebih cepat dari Google. Prinsip “bergerak cepat” di Facebook menghasilkan moto lain “ ship early and ship often” yang secara cultural tidak tertanam di Google.
  • Google secara umum lebih menghasilkan code program yang berkualitas karena lebih banyak dites karena Google menganggap “not breaking things is important” tetapi “shipping later” atau “di-launch nanti” berarti Google juga belakangan mendapatkan user feedback dan mendapatkan lebih sedikit user feedback sehingga terdapat lebih banyak kemungkinan untuk Google melakukan “overdesign” atau “overspec” bila secara relatif dibandingkan dengan Facebook.
  • “Moving fast” membantu Facebook untuk menempatkan lebih banyak “taruhan” atau bets dan memvalidasi lebih banyak ide dengan menghabiskan lebih sedikit effort per idenya, yang berarti lebih cepat memfokuskan diri pada ide yang memiliki impact paling besar, sebaliknya Google memiliki kemungkinan lebih besar dibandingkan Facebook untuk melakukan “over-invest” pada produk dan fitur yang pada ujungnya tidak terpakai karena tidak cukup memvalidasi ide.
Facebook memiliki size sekitar sepersepuluh jumlah karyawan dibandingkan Google, jadi waktu akan membuktikan apakah culture “moving fast and breaking things” bisa terus berjalan dan scale di saat perusahaan ini tumbuh dan semakin banyak hal untuk ditabrak.
Terdapat point of view lain bahwa culture ini tergantung dari jenis produk atau servicenya. Google memiliki banyak paid services dan tidak bisa banyak menggunakan prinsip “‘move fast and break things’. Sedangkan konten Facebook lebih bersifat ”disposable”, jadi culture seperti ini bisa digunakan untuk produk seperti ini.

*) Pengertian “iterasi produk” secara casual adalah produk tidak berlama-lama berada di dalam kantor tetapi secepatnya dilempar ke customer untuk mendapat feedback, setelah mendapat feedback, tim engineers memperbaikinya, lalu dilempar lagi ke market. Pergerakan produk dari ruang produk development/engineer ke market disebut dengan iterasi. Iterasi produk adalah konsep yang penting dalam lean startup karena semakin cepat iterasi dilakukan, penerimaan market semakin baik.

DI PLEK DARI ALAMAT:,...
http://startupbisnis.com/konsep-apa-yang-berjalan-baik-di-facebook-tetapi-tidak-di-google/

Apa yang Membedakan Top 10% CEO Startup Terbaik dengan yang Lainnya ?

dna
Bagaimana karakter dari CEO yang baik ? bagaimana cara menjadi pemimpin sebuah perusahaan ? Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda untuk pertanyaan ini. Berikut ini adalah jawaban dari Mark Suster (Partner dari VC GRP Partner) dan Robert Scoble dari Rackspace.

Mark Suster : DNA seorang entrepreneur adalah sebagai berikut :
  1. Tenacity / Keuletan–  Sifat yang paling penting dalam  entrepreneur adalah tekad pantang menyerah.
  2. Street smarts / Kecerdasan jalanan – Pergi ke luar, bertemu customer langsung dan memahami customer lebih penting daripada  hanya membaca buku atau penelitian komputer.
  3. Ability to pivot / Kemampuan untuk merubah konsep – Tidak cukup hanya cerdas dan ulet. Anda harus bisa untuk memiliki produk yang bagus dan market yang pas dan cukup besar untuk menghasilkan uang. Entrepreneurs yang baik dapat memodifikasi produknya sehingga cocok dengan business model  dan mendapatkan produk yang sesuai dengan kebutuhan market.
  4. Resiliency / Ketahanan – Menjadi seorang entrepreneur itu seksi… kata mereka yang belum melakukannya. Pada kenyataannya, sangat sulit sulit karena  Anda akan dipenuhi dengan keraguan, Anda akan sering bertanya pada diri sendiri “Apa saya yakin melakukannya?”. Sebenarnya “Entrepreneurship is about survival.”
  5. Inspiration / Inspirasi – Keuletan + kecerdasan tidak cukup tanpa inspirasi. Anda perlu untuk memimpin tim dan meyakinkan orang lain untuk mencoba “memindahkan gunung” ketika segala cara yang mereka lakukan tidak berhasil. Adalah tugas Anda untuk meyakinkan mereka bahwa mereka bisa.
  6. Hard working & disciplined / Kerja keras & disiplin - Kita semua tahu banyak orang yang bisa berdiri di sebuah konferensi dan memberikan pidato yang bagus dan mengagumkan di depan pelanggan. Tapi dibutuhkan lebih dari inspirasi untuk membangun bisnis yang sukses. Anda juga membutuhkan kerja keras dan disiplin.
  7. Willingness to accept risk / Kesediaan untuk menerima risiko – Dalam konteks ini kita tidak berbicara tentang risiko gila, tetapi entrepreneur adalah orang-orang yang bersedia untuk memulai bisnis dengan “leap of faith”. Mereka tidak menunggu dan selamanya mengerjakan “proyek sampingan” sampai hari ketika mereka siap untuk memulai sebuah bisnis yang serius. Jika Anda tidak bersedia untuk mengambil risiko dengan bekerja full time untuk startup Anda, tentunya Anda akan membuat investor Anda tidak percaya atau mungkin Anda yang tidak percaya kepada diri Anda sendiri.
  8. Attention to detail / Perhatian terhadap Detail – Jika Anda akan memimpin sebuah bisnis pada tahap-tahap awal Anda harus mengerti semua rincian Anda. Anda perlu tahu model keuangan Anda. Anda perlu terlibat dalam desain produk. Anda perlu memiliki pemahaman yang rinci dari penjualan Anda. Intinya Anda harus mengerti segala detail.
  9. Competitiveness / Daya Saing – Pengusaha terbaik benci untuk kalah. Entah itu dalam kehidupan pribadi atau bisnis mereka selalu ingin menang. Menang disini tentunya dalam arti yang positif. Keinginan untuk menang selalu ada dalam pikiran mereka. Berbagi pasar tidaklah cukup – mereka ingin menang setiap transaksi, mempekerjakan setiap karyawan – karyawan terbaik dan mendapatkan mitra-mitra terbaik.
  10. Decisive / Ketegasan –  Pengusaha tidak lemah, mereka mengerjakan apa yang mereka harus lakukan. Ini yang membedakan entrepreneur dengan eksekutif di perusahaan besar, konsultan dan investor. Semua orang tersebut memiliki kemewahan berupa analisis. Sedangkan pengusaha dihadapkan dengan banjir keputusan setiap harinya yang  sebagian besar merupakan hal-hal kecil. Semua itu membutuhkan keputusan dan tindakan yang cepat.
  11. Domain Experience or ability to go really deep and learn it / Pengalaman di vertical niche tertentu atau kemampuan untuk masuk di suatu domain dan mempelajarinya dengan mendalam - Yang dimaksud dengan Domain Experience adalah founder memiliki pengalaman dalam industri sejenis sebelumnya. Walaupun, Domain Experience bukanlah syarat mutlak,  tetapi, jika Anda memilikinya itu akan menjadi nilai tambah yang besar. Lebih baik Anda mulai dengannya daripada dari tidak sama sekali.
  12. Integrity / Integritas - Integritas dan kejujuran sangat penting bagi founder yang ingin memiliki investor dari venture capital. Tentunya dengan Integritas yang baik banyak venture capital yang mau untuk bekerja sama.
  13. Passion for what are you doing / Passion terhadap apa yang Anda kerjakan.

Robert Scoble : Saya telah melakukan interview dengan ribuan CEO, beberapa hal yang penting menurut saya adalah :
  1. Bagus dalam melakukan hiring dan firing. Startup CEO yang baik biasanya bagus dalam melakukan hiring, artinya menjual mimpi bisnis mereka kepada orang lain, terutama ketika mimpimu terlihat sulit diterima atau sangat beresiko. Saya pernah bekerja dengan CEO yang bagus sekali dalam hiring tetapi sulit untuk memecat satupun karyawan. Hal ini menghancurkan bisnisnya. Banyak dari CEO yang bagus tidak takut untuk memecat karyawan yang tidak perform.
  2. Builds a culture, not just a company. Bangun sebuah budaya, bukan hanya perusahaan. CEO terbaik seperti Tony Hsieh di Zappos, membangun culture yang memberikan misi kepada setiap orang, Zappos menjadi berbeda dibanding perusahaan lain yang membosankan.
  3. Listens and acts. Mendengarkan dan melakukan aksi. Banyak CEO yang ingin mengatakan padamu apa yang mereka lakukan, tetapi yang terbaik mendengarkan feedback dan melakukan sesuatu terhadap feedback yang mereka terima. Tidak sedikit yang memberikan credits untuk masukan yang mereka terima.
  4. Resilient / Tahan banting.  AirBnB membutuhkan 1,000 hari untuk bisnisnya bisa berjalan. Bayangkan jika mereka menyerah di hari ke 999 ? CEO yang baik menemukan cara untuk terus berjalan meskipun semuanya nampak tidak setuju dengan mimpi mereka.
  5. Has vision / Memiliki Visi. Banyak CEO yang baik tetapi jika kamu tidak memiliki kemampuan membangun produk yang matter to people,  tidak ada yang mengingat namanya.
  6. Stays focused / Fokus. Seorang teman yang bekerja untuk Steve Jobs mengatakan pada saya bahwa apa yang membuatnya berbeda adalah Jobs tidak membiarkan seorang anggota tim pindah mengerjakan tugas lain sebelum pekerjaannya benar-benar menyelesaikannya.
  7. Speaks clearly / Berbicara dengan jelas. CEO yang baik bisa berbicara dengan jelas, tajam, padat dan quotable. Banyak orang tidak memiliki skill menyampaikan cerita dengan mudah diingat. CEO yang baik sangat pandai melakukannya karena adalah pekerjaan CEO untuk menyampaikan story dari perusahaan dan produknya.
  8. Is a customer advocate / Sangat memahami kebutuhan customer. CEO yang baik memahami dengan mendalam apa yang diinginkan customer terutama saat mereka mengambil keputusan yang memberatkan customer.
  9. Good at convincing other people / Baik dalam meyakinkan orang lain. CEO harus berdapan dengan berbagai interest group yang berbeda kepentingan. Customer sering menginginkah hal yang tidak diinginkan investor. Jadi CEO yang baik harus panda meyakinkan orang lain untuk mengikuti keputusannya, bahkan mengubah opini orang lain.
Beberapa hal lain yang layak disebut adalah :
  1. Fokus pada hal yang penting
  2. Sabar dan tidak sabar pada saat yang bersamaan
  3. Mampu merekrut pemain yang benar di saat yang tepat




    di plek dari alamat:..
    http://startupbisnis.com/apa-yang-membedakan-top-10-ceo-startup-terbaik-dengan-yang-lainnya/

Sebenarnya Siapa yang Anda Lawan Sebagai Sebuah Startup? Mungkin bukan kompetitor!

meow-fight

Editor’s note : Ini adalah tulisan dari Elisha Tan, Founder Learnemy, startup dari Singapura yang merupakan “marketplace kursus” (benchmark : Skillshare) di mana tak lama setelah ia melaunch Learnemy, muncul kompetitor baru, Kezaar.com dengan tim founder yang lebih banyak dan memiliki pengalaman industri yang panjang. Tak lama kemudian,  Willis Wee dari Techinasia menulis “Hello Learnemy, Kezaar is your competitor, now fight !” yang secara langsung membandingkan Learnemy Vs Kezaar, lengkap dengan gambar kucing sedang berkelahi. Elisha Tan founder Learnemy menghadapi situasi ini memberikan respon yang membuat kita kembali memikirkan “siapa sebenarnya kompetitor kita ?”.  Respon ini sangat brilian sehingga kami memutuskan memuatnya di Startupbisnis. 
Sebagai informasi untuk Anda, tech startup scene di Singapura memiliki banyak perbedaan dengan Indonesia, salah satunya startup Singapura sejak awal harus mentarget dunia karena marketnya yang kecil, penetrasi internet dan smartphone di Singapura juga sangat tinggi. Orang-orang Singapura juga populer disebut memiliki “kiasu mentality” yang sejak kecil dididik memiliki sifat pantang menyerah dan competitive yang sangat tinggi.


Saya membaca artikel dari Willis Wee beberapa minggu lalu dan artikel itu membuat saya berpikir tentang ‘bertarung’ dengan kompetitor.
Apakah saya, sebagai sebuah startup, benar-benar ingin bertarung dengan kompetitor saya seperti Kezaar?
Tidak.
Karena saya memilih pertarungan-pertarungan saya dan memiliki sesuatu yang lebih besar untuk diperjuangkan.

1. Bertarung Melawan Status quo

Saya suka kemenangan. Tapi saya tidak memulai startup hanya untuk bisa membuktikan pada diri sendiri dan orang lain bahwa saya bisa menang dalam lingkungan startup. Saya mendirikan Learnemy karena saya percaya bahwa orang-orang pasti bisa menjalani dan membiayai hidup dengan melakukan apa yang mereka sukai.
Saya percaya bahwa ada perbedaan antara ‘being alive’ dan ‘living’. Di Singapura, kami sangat beruntung karena memiliki tempat tinggal, makanan, dan keamanan, tapi seberapa banyak dari kita yang benar-benar hidup? Saya mengerti bahwa hal tersebut sulit dicapai karena di Singapura banyak passion yang dipasangkan dengan karir yang “tidak ada masa depan”.
Saya bertarung melawan status quo ini dengan memungkinkan orang-orang untuk mampu membiayai hidup dengan mengajarkan ilmu pada mereka. Saya bertarung untuk sesuatu yang saya percayai. Anda bisa membaca lebih banyak tentang alasan kenapa saya memulai Learnemy dalam blog post ini.

2. Bertarung melawan kondisi di mana Anda tidak dikenal publik

‘Setan’ terbesar yang dilawan oleh semua startup bukanlah kompetitor, melainkan kondisi tidak dikenal. Anda bisa saja menjadi yang pertama dalam sebuah pasar, atau satu-satunya dalam pasar tersebut, dan akan tetap gagal jika tidak ada yang peduli dengan produk Anda. Faktanya, kompetisi adalah validasi bahwa Anda tidak bodoh (atau bukan satu-satunya yang bodoh). Jika Anda sendirian dalam sebuah pesta, maka mungkin Anda berada di tempat yang salah.
Inilah alasan kenapa Anda harus menemukan kecocokan antara produk dan market (product market fit). Bagaimana Anda membuat target pasar Anda peduli pada Anda? Bagaimana caranya agar Anda tidak terlupakan oleh mereka? Banyak startup yang mati dalam proses berusaha menemukan kecocokan itu. Sebagai startup yang masih baru, seperti Learnemy dan Kezaar, kami lebih peduli untuk bertarung demi tetap survive, dan melawan kondisi tidak dikenal, daripada bertarung satu sama lain.

3. Bertarung melawan diri sendiri

Saya mengetahui tentang Kezaar sebelum artikel tersebut. Saya mengetahui bahwa ada beberapa perusahaan serupa sebelum saya memulai. Mungkin ada lebih banyak perusahaan yang harus saya ‘pukul’ dibandingkan kemampuan memukul saya. Tapi tidak ada yang sebanding dengan ‘pertarungan internal’ dengan diri saya sendiri.
Saya memulai Learnemy beberapa bulan setelah lulus kuliah sebagai founder solo dan non-teknikal. Saya tidak memiliki tim, tidak bisa menulis kode dengan lancar, dan baru merilis versi beta setelah tahun pertama. Saya bukan veteran dalam dunia startup, atau veteran dalam industri apapun seperti tim yang ada di balik Kezaar. Keberuntungan tidak ada di pihak saya, tapi perbedaan besar ini tidak menggangu saya dibanding fakta bahwa saya mengetahui seberapa banyak lagi yang bisa dikerjakan tapi belum saya lakukan.
Saya bukannya mengutuk diri sendiri, saya bangga pada asal dan hal-hal yang sudah saya pelajari. Tapi sekaligus menyadari dengan jelas bahwa banyak yang masih bisa dikembangkan. Jika ada sebuah daftar yang harus saya lawan, maka kompetitor ada di urutan paling bawah. Faktanya, saya malah mengagumi para kompetitor. Tidaklah mudah untuk membuat bisnis marketplace, apalagi yang sukses. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka.

di plek dari alamat:..
http://startupbisnis.com/sebenarnya-siapa-yang-anda-lawan-sebagai-sebuah-startup-mungkin-bukan-kompetitor/

3 Hal yang Membedakan Antara Leader dan Manager

leadership1-600x0
Untuk membangun sebuah organisasi yang sukses, perlu ada berbagai orang yang memainkan peran berbeda dalam organisasi agar organisasi  dapat berjalan lancar.
Beberapa peran dapat ditentukan dengan mudah sementara yang lain mungkin memiliki batas-batas yang lebih membingungkan, misalnya, apa perbedaan antara Leaders dan Managers ?
Anda dapat menjadi manajer dan leader pada saat yang sama, tetapi hanya karena Anda seorang pemimpin fenomenal tidak menjamin Anda akan menjadi manajer yang hebat, dan sebaliknya, jadi apa perbedaannya ?
Dalam bukunya “On Becoming a Leader”, Warren Bennis menulis tentang perbedaan penting antara beberapa pemimpin dan manajer. Berikut adalah beberapa hal penting dari buku ini, serta insight dari Gene Wade, pendiri CEO UniversityNow, dan Peter Drucker.

1. Leader melakukan inovasi, sedangkan manajer mengelola.
Ini berarti bahwa seorang leader atau pemimpin adalah orang yang datang dengan ide-ide baru dan menggerakkan seluruh organisasi ke dalam fase berpikir untuk maju. Orang ini harus terus-menerus  mengembangkan strategi-strategi dan taktik baru . Dia harus memiliki pengetahuan tentang tren terbaru, penelitian, dan keahlian.
Di sisi lain, manajer mempertahankan apa yang telah ditetapkan. Orang ini harus mempertahankan kontrol dan mengatasi gangguan dalam organisasi yang mungkin ada.
Dalam bukunya The Wall Street Journal Essential Guide to Management: Lasting Lessons from the Best Leadership Minds of Our Time, Alan Murray mengutip Drucker bahwa seorang manajer adalah seseorang yang menetapkan target yang tepat, tolok ukur, analisis, dan menilai kinerja. Manajer memahami orang-orang yang bekerja bersama mereka dan tahu mana orang yang terbaik untuk tugas-tugas tertentu.
2. Leader menginspirasi sementara manajer bergantung pada kontrol.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang menginspirasi orang lain untuk menjadi yang terbaik dan tahu cara yang tepat mengatur tempo serta kecepatan untuk seluruh kelompok.
Kepemimpinan adalah bukan apa yang Anda lakukan-tetapi apa yang orang lain lakukan sebagai respon dari Anda. Jika tidak ada yang muncul di barisan Anda, maka Anda bukanlah  seorang pemimpin.
Dan jika orang memutuskan untuk ikut dalam “kapal” Anda karena Anda telah menginspirasi mereka, maka itu berarti bahwa Anda telah membuat suatu ikatan kepercayaan dalam perusahaan. Ini adalah hal yang penting karena jika bisnis berubah dengan cepat dan membutuhkan orang untuk percaya dalam suatu misi, maka orang ini bisa menjadi pilihan yang tepat.
Adapun manajer, Drucker menulis bahwa tugas mereka adalah untuk mempertahankan kontrol atas orang dengan membantu mereka mengembangkan aset mereka sendiri dan mengeluarkan bakat mereka yang terbesar. Untuk melakukan ini secara efektif, Anda harus tahu orang-orang yang bekerja dengan dan memahami kepentingan mereka serta passionnya.
Manajer kemudian menciptakan keputusan tentang gaji, promosi penempatan, dan melalui komunikasi dengan tim.
Mengelola proyek adalah satu hal, memberdayakan orang lain adalah hal lain.
3. Pemimpin bertanya “what” dan “why,” sedangkan manajer bertanya “how”.
Untuk bertanya apa  dan mengapa Anda harus mampu mempertanyakan mengapa orang lain melakukan tindakan-tindakan tertentu yang terjadi. Kadang-kadang ini mengharuskan Anda menantang atasan.
Ini berarti bahwa mereka mampu stand up untuk manajemen ketika mereka berpikir sesuatu  yang perlu dilakukan bagi perusahaan. Pemimpin tidak selalu benar tentunya.
Jika perusahaan Anda mengalami kegagalan, pekerjaan leader adalah untuk datang dan berkata, “Apa yang kita pelajari dari hal ini?” Dan “Bagaimana kita menggunakan kegagalan  ini untuk memperjelas tujuan kita atau mendapatkan sesuatu yang lebih baik?”
Sebaliknya, manajer tidak benar-benar berpikir tentang apa artinya kegagalan.
Tugas mereka adalah untuk bertanya “bagaimana” dan “kapan” untuk memastikan mereka melaksanakan rencana yang sesuai. Drucker menulis bahwa manajer menerima status quo dan lebih seperti tentara di militer. Mereka tahu bahwa perintah dan rencana yang penting dan tugas mereka adalah untuk menjaga visi mereka pada tujuan perusahaan saat ini.
Meskipun untuk dua peran mungkin mirip, “Para manajer terbaik juga para pemimpin,” kata Wade. “Saya pikir Anda bisa melakukan keduanya, tetapi Anda harus meluangkan waktu untuk mengolahnya.”
Sumber : Vivian Giang, Business Insider

di plek dari alamat:..
http://startupbisnis.com/3-hal-yang-membedakan-antara-leader-dan-manager/

6 Lessons From Antagonist : Fast & Furious 6


fast_and_furious_6-wide Editor’s note : Creasionbrand adalah Creative Sales & Brand Consultant. Sederhananya yang kami kerjakan adalah membantu klien2 kami meningkatkan potensi penjualannya dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif melalui aktivitas membangun Brand & Creative Sales, baik melalui aktifitas on line maupun offline. Kata orang tak kenal maka tak sayang, jadi untuk kenal lebih jauh bisa kunjungi web (www.creasionbrand.co.id) dan blog kami (www.creasionbrand.blogspot.com), atau bisa juga contact kami untuk sekedar ngupi2 santai

Euforia Fast & Furious 6 pada akhirnya menyeret saya juga yang penasaran dengan kelanjutan cerita Toretto and the gank. Selain itu kehebohan berita tentang akting Joe Taslim (aktor Indonesia yang memiliki kesempatan untuk bisa ikut bermain di film itu) menambah bumbu penasaran terhadap film ini. Orang Indonesia pastinya bangga dengan kehadiran Joe Taslim di film ini, walaupun bukan sebagai main character, tapi kehadiran Joe Taslim di film ini cukup bisa membuat kita yang menonton puas dengan porsi kemunculannya.
Euforia Fast & Furious memang cukup dahsyat, terbukti saking banyak disukai nya serial ini sampai juga di film ke 6, bahkan jika kita menonton sampai habis, di bagian akhir film, diselipkan lah sebuah adegan yang memberikan teaser/pancingan sekaligus pemberitahuan bahwa aksi Toretto and the gank masih akan berlanjut di seri ke 7, tidak tanggung-tanggung teaser itu dibalut dengan kemunculan Jason Statham (aktor laga Amerika yang cukup tenar & disukai).
Setelah menonton film ini, saya justru lebih “terpikat” pada sepak terjang pimpinan sang tokoh antagonis, Owen Shaw. Dengan semua strategi dan prinsip yang dimiliki nya sebenarnya bisa dikatakan misi yang dilakukan nya nyaris berhasil (ya kalo di film kan ga mungkin sisi antagonis ini menang, ya pasti Toretto lah yang harus menang). Prinsip-prinsip yang dilakukan Owen Shaw justru lebih mirip pebisnis, walaupun ada beberapa hal “licik” yang tidak baik juga untuk dicontoh, tapi kalau boleh sedikit membahas, berikut beberapa poin penting yang mungkin bisa kita pelajari dari Owen Shaw.

Fast-and-Furious-6-Luke-Evans1-642x362
Oh, ya sebelum membaca lebih lanjut, bagi yang belum menonton film ini, sebaiknya tidak meneruskan membaca, karena ada beberapa spoiler di tulisan2 saya :)

1. Never underestimate your enemy
Di bagian awal film kita sudah diberikan gambaran betapa kuatnya tim Owen Shaw dalam hal strategi & perencanaan, mereka dengan mudah nya bisa mengecoh dan melumpuhkan para DSS Agent (polisi), bahkan tidak sulit mengalahkan tim Toretto, dan kabur bagai asap dari kejaran polisi yang dibantu dengan tim Toretto.
Walaupun dalam kondisi “di atas angin”, saya sangat suka dengan pemikiran Shaw pada saat memberikan informasi tentang komposisi tim Toretto kepada tim nya, kurang lebih perkataannya seperti ini: “Jangan pernah kita menyepelekan kekuatan lawan kita, atau kita yang akan menjadi lemah menghadapi mereka”. Dalam bisnis dan usaha, kita memiliki competitor dan banyak rintangan dalam melakukan penjualan dan melancarkan bisnis kita, namun pada saat kondisi perusahaan “di atas angin” mungkin kita harus belajar dari prinsip Shaw, tidak pernah menyepelekan competitor dan iklim bisnis, karena perubahan sedikit saja bisa jadi merubah langkah bisnis kita kedepan: bertahan, adaptasi (berubah) atau mati.

2. Cerdik melihat peluang
Salah satu alasan tim Toretto mau membantu Hobbs adalah karena “umpan” adanya Letty (kekasih Dominic Toretto, yang di film ke 4 diceritakan telah meninggal) yang ternyata masih hidup dan bekerja sama di tim Shaw. Diceritakan juga ternyata pada saat Shaw mendatangi Letty di Rumah Sakit (setelah mobil Letty meledak dan membuat Letty meninggal), pada awalnya Shaw berniat untuk membunuh Letty, tapi karena Letty kehilangan ingatan, dan mempertimbangan skill (kemampuan) Letty, maka akhirnya Shaw malah merekrut Letty untuk bergabung di tim nya.
Keputusan untuk meng hire Letty dengan segala kondisi nya adalah keputusan cepat yang dibuat oleh Shaw, dalam bisnis pun seperti itu, seringkali kita harus mengambil keputusan yang cepat dan juga mengubah strategi untuk mengubah kekuatan competitor kita menjadi kekuatan kita.
Teman pebisnis saya pernah melakukan hal yang mirip seperti ini, dia merekrut marketing kartu kredit yang seringkali menelpon nya menjadi marketing perusahaan nya, hahahahaaaa…. daripada memusuhi marketing kartu kredit, mengapa kita justru tidak berpikir untuk menghire nya? Toh… secara skill dan mental menjual mereka sudah sangat teruji, hanya saja kita memang harus lebih hati-hati dalam hal term & condition, salah-salah malah sang marketing yang bisa membocorkan rahasia perusahaan kita kepada pesaing.
3. Intelijen / riset adalah poin ampuh
Salah satu hal yang tidak saya duga adalah keberpihakan DSS Agent, Riley, partner agent Hobbs yang semula ada di pihak yang sama dengan Toretto, kemudian ternyata adalah intelijen Shaw. Di sini kita disadarkan pentingnya intelijen dan riset dalam menyusun sebuah planning, informasi sekecil apapun, akan sangat berpengaruh terhadap strategi yang kita susun.
Tidak heran jika ternyata langkah yang diambil oleh DSS selalu bisa ditanggulangi oleh tim Shaw, strategi yang di eksekusi pun selalu membuat tim Shaw sedikit lebih unggul. Tentu nya hasil intelijen dan riset harus juga di bantu dengan timing yang tepat. Jika kita ingin membuka bisnis milyaran, mungkin riset yang harga nya ratusan juta “terasa” mahal di awal, tapi pernahkah kita berpikir, bahwa tanpa riset yang hanya berharga ratusan juta itu, bisnis milyaran kita bisa jadi justru menuju kehancuran tanpa hasil riset.
4. Blue Ocean Strategy
Dalam adegan penyerangan konvoi pemindahan komponen nuklir yang ingin dicuri oleh Shaw, kita bisa melihat, bahwa agen DSS hanya bertindak sesuai protokol (sesuai prosedur), dan hal inilah yang telah di prediksi oleh Shaw, dengan membuat DSS berpikir bahwa tim nya akan menyerang pangkalan militer (yang sudah dijaga ketat), maka secara protokol, komponen nuklir itu dipindahkan ke “lokasi aman”, sementara agen DSS lain menunggu serangan ke pangkalan militer.
Dalam bisnis kita seringkali melihat peluang “me too” dimana ada sebuah produk ataupun campaign yang sukses, seketika itu juga akan tumbuh subur KW-KW nya atau produk2 “me too” nya dengan harga yang lebih murah. Protokol itu juga yang seolah-olah menjadi rumus bagi pebisnis yang masuk di Red Ocean, pasar sudah teredukasi, maka tinggal berusaha “merebut” pasar yang ada, daripada berpikir untuk menyerang pangkalan militer, Shaw malah berencana untuk menyerang konvoi yang mengawal komponen nuklir, mengapa? Secara jumlah personil dan peralatan sudah pasti jauh lebih sedikit dan lebih mudah untuk dikalahkan, dibanding menyerang pangkalan militer.
5. Bongkar pasang tim
Apa yang terjadi jika jam tangan atau peralatan elektronik kita rusak? Pasti nya teknisi akan melihat masalah nya apa, dan jika ada komponen yang rusak dan tidak bisa diperbaiki, maka akan diganti dengan komponen baru, agar sistem alat elektronik kita bisa berfungsi dengan baik. Prinsip ini juga yang sangat dipegang teguh oleh Shaw, daripada mengurus anggota tim nya yang sudah bisa bekerja dengan baik, Shaw lebih suka untuk membongkar pasang tim nya, agar bisa beroperasi dan berjalan dengan fungsi masing-masing.
Dalam menagani klien, kami seringkali dihadapkan pada dilema family business, beberapa hambatan yang sering terjadi adalah ada posisi-posisi penting yang secara skill kurang cocok dan kurang maksimal, namun dilema nya person in charge tidak bisa diganti karena kedekatan dengan keluarga pemilik ataupun founder. Dan hal ini seringkali membuat roda kinerja perusahaan menjadi melambat. Tapi keputusan untuk mengganti harus dibuat, tapi mungkin bukan seperti Shaw yang “melenyapkan” tim nya yang sudah tidak berfungsi dengan baik, tapi mungkin yang bisa dilakukan adalah memindahkan person tersebut ke posisi yang memang lebih membutuhkan keahlian orang tersebut.
6. Konsisten
Konsisten melakukan sistem, planning dan strategi yang telah dibuat. Shaw sangat konsisten untuk mejalankan prinsip nya, dimana jika ada anggota tim yang sudah tidak bisa berfungsi secara benar, maka orang tersebut harus diganti, apapun alasannya, dengan begitu misi yang dijalankan akan selalu berhasil.
Dalam bisnis kita seringkali membuat planning dan strategi untuk mencapai tujuan kita, tapi yang seringkali dilupakan oleh kita adalah komitmen dan konsistensi. Pada saat menyusun planning dan strategi kadangkala kita masih sangat ber api-api untuk melaksanakan, tapi karena satu dan lain hal terkadang kita sering mentoleransi diri untuk istirahat sebentar. Ketidak konsistenan seperti ini lah yang bisa membuat sebuah bisnis seperti berjalan di tempat. Jika kita ingin tujuan kita tercapai, maka konsisten lah.
So… ride or die?

 di plek dari alamat:..
http://startupbisnis.com/6-lessons-from-antagonist-fast-furious-6/

Bagaimana Membangun Budaya Perusahaan yang Hebat

blogimage
Editor’s note : Saya pernah bekerja di beberapa korporasi dan juga startup sebelumnya, banyak dari perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya tidak pernah menanyakan “seperti apa seharusnya perusahaan ini?” , ada juga pimpinan perusahaan yang sering bercanda hal-hal yang aneh dan cenderung jorok – belakangan saya paham maksudnya adalah supaya tidak ada batasan yang terlalu kaku antara atasan dan bawahan, ada juga yang bilang konsep Zappos tidak bisa diterapkan di Indonesia karena SDM di Indonesia tidak sebaik di US. Tetapi yang pasti budaya perusahaan bisa di set dari awal, mumpung masih startup.  Artikel ini berisi pengetahuan yang Anda butuhkan untuk membangun budaya perusahaan. Artikel lain mengenai budaya Zappos bisa Anda baca di : Kebahagiaan di balik kesuksesan Zappos oleh Stephawie

Pada saat Tony Hsieh berumur 9 tahun, dia pernah berbisnis cacing dengan investasi awal $33 yang didapat dari orang tuanya yang berdarah taiwan. Pada saat itu dia memulai bisnisnya. Dia memulai bisnis kecilnya ini di belakang rumahnya. Namun, sayang sekali, ratusan cacingnya mati, entah karena kabur atau dimakan burung. Namun, hal ini tidak meruntuhkan semangatnya untuk berbisnis.
Pada usia 22 tahun, dia memulai bisnis barunya, LinkExchange, yang dijual ke Microsoft seharga $265miliion. Kemudian diusia 24, Hsieh bingung ingin melakukan apalagi dengan uang sebanyak $80million. Setelah berpikir akhirnya dia memutuskan untuk membuat venture capital bernama VentureFrogs. Namun, dia memutuskan untuk berhenti karena berinvestasi membosankan.
replacement-words
Akhirnya, dia berpikir, walaupun dia tidak pernah bekerja di kantor sebelumnya, mengapa orang berangkat kerja jika dia tidak ingin bekerja. Akhirnya ia membangun Zappos, menjadi CEO dan dalam setahun bisa menggandakan keuntungannya dalam menjalan bisnis online shop sepatu dengan revenue $1billion pada 2008. Pada saat Zappos berkembang dia menjadi ambisius untuk membuat company culture yang tidak saja mengayomi karyawan tetapi juga mewujudkan “pekerjaan yang menyenangkan”. Dengan buku best-selling dan seminar-based company, zappos insight, yang membantu company lain untuk membangun culture company yang baik, Hsieh menjadi pionir dalam mengembangkan culture di zappos yang tidak saja untuk menjual sepatu, tetapi juga membuat “dunia menjadi lebih menyenangkan”.
Company yang baik memiliki culture kuat yang menjunjung values. Tidak penting values seperti apa, yang penting setiap company harus memilikinya. Jika Anda ingin company Anda menjadi kuat, Anda harus menemukan nilai itu.
Berikut 10 hal yang bisa Anda dapatkan dari Tony Hsieh :
1. Carilah Nilai Personal Anda.
Sebelum Anda menemukan nilai company Anda, Anda harus menemukan Nilai Personal Anda. Cobalah untuk membuat peta timeline kehidupan Anda. Carilah “the peak moments”.  Setiap orang pasti memiliki nilai yang berbeda dari peak momentsnya. Sebagai contoh jika Anda mendapatkan football championship di SMA, itu berarti nilai yang Anda dapatkan adalah kerja keras dengan terus menerus dan teamwork. Kemudian cobalah lihat the low moments. Ini mungkin yang membuat sesuatu hilang dari nilai yang Anda anut. Kemudian cobalah untuk membuat list teman Anda. Anda mungkin memiliki dan sharing nilai personal yang sama. Kemudian cobalah untuk membuat list orang yang Anda tidak sukai. Mungkin ada sesuatu yang disconnect dengan mereka. Pasti Anda pernah berteman dengan mereka awalnya, tuliskan mengapa Anda sekarang membenci mereka ? Dengan cara seperti ini Anda akan menemukan core values dari company Anda.
2. Samakan values Anda dengan karyawan Anda
Mungkin jika karyawan Anda sedikit, ini bukan masalah, tetapi Zappos baru mengetahui ini penting pada saat mereka memiliki 100 lebih karyawan. Nilai yang Anda dan karyawan Anda anut harus berjalan bersama. Karyawan memiliki nilai kebersamaan dengan Anda jika mereka ikut membangun company.
Di Zappos, Hsieh mencoba dengan menuliskan email untuk karyawannya dengan tulisan “Bagaimana seharusnya Zappos ?”. Banyak email masuk setelah itu dan setelah diskusi panjang Hsieh mendapat 35 core yang potensial yang kemudian digabungkan dengan ditulis ulang menjadi 10 yang bukan hanya dihafal tetapi juga di lakukan. Mungkin ini merepotkan, tetapi dengan hal ini semua elemen karyawan memiliki rasa memiliki dengan company

Mengapa orang berangkat kerja jika dia tidak ingin bekerja ?

3.  Rekrut dan keluarkan orang sesuai values.
Sulit untuk menemukan orang yang memiliki culture/attitude baik dan ahli di bidangnya. Pada saat Zappos ingin meng hire orang, mereka akan meng invterview seperti biasa ditambah dengan pertanyaan tentang nilai inti dari perusahaan. Karena jika itu sudah sama, maka mereka akan otomatis menjadi bagian dari Zappos.  Begitu pula sebaliknya, jika ada karyawan yang tidak menghargai nilai inti, maka mereka tidak akan mempertahankannya. Mungkin dia adalah superstar di kantor Anda, dengan tingkat keahlian tinggi, tetapi jika Anda terus mempertahankan orang seperti ini maka pada saat perusahaan Anda besar, perusahaan Anda akan kehilangan nilai dan nantinya itu akan lebih rugi daripada memecatnya di awal. Biasanya di Zappos, proses pemecatan memakan waktu setengah tahun dan memang tidak mudah.
4. Ambil keputusan sesedikit mungkin.
Hsieh sebagai CEO berpikir bahwa dia harus bisa mengambil keputusan sesedikit mungkin karena Zappos memiliki culture bottom-up (keputusan diambil dari bawah) di mana dia hanya membantu menyingkirkan rintangan yang ada saja, tetapi tidak mengambil banyak keputusan.
5. Buatlah koneksi.
Dikelilingi oleh banyak orang pasti membuat Anda terisolasi. Di Zappos, Hsieh mencoba untuk merajut semua karyawan menjadi satu dengan cara membuat Face Game. Caranya adalah, pada saat karyawan membuka komputer mereka harus menebak foto siapa ini dengan pilihan ganda. Setelah itu profile orang tersebut akan keluar. Disinilah Zappos melakukan koneksi.
zcltdesks
Just like home (http://blogs.zappos.com/taxonomy/term/21519)
6. Buat Culture selalu hidup.
Zappos memiliki culture yang selalu berkembang berdasarkan keingingan karyawan apakah mereka senang atau tidak dengan culture yang ada. Karyawan di Zappos sering memiliki ide gila dan random. 7 tahun lalu bahkan ada seseorang yang melakukan ide membuat parade antar departement. Ide tersebut kemudian menjadi culture di Zappos. Sekarang Anda tidak tahu kapan ada parade. Setiap minggu kadang ada karyawan yang memakai kostum super hero, hanya mengenakan celana dalam, oktoberfest dan lainnya. Mereka membuat makanan, menyalakan musik dan hal-hal gila serta random lainnya. “Di sinilah kami membuat karyawan merasakan energy dan merasakan bekerja tidak seperti bekerja.”
7. Tanamkan” WOW”.
Culture Zappos yang pertama adalah untuk membuat  WOW dengan service yang memuaskan. Zappos menggunakan WOW sebagai kata kerja. Untuk Hsieh sendiri, WOW berarti memberikan service di atas rata-rata di atas kata WOW itu sendiri. Contohnya 10 tahun lalu, Zappos menawarkan free shipping dengan WOW yang besar. Pembeli dapat memilih 10 pasang sepatu dan mencobanya di rumah. Jika ada dari 10 pasang itu yang tidak dimininati atau kurang cocok dengan baju Anda, Anda bisa mengembalikannya gratis. Di situlah Hsieh membuat pembeli percaya pada Zappos.  ”Kadang kami membuat gambar dan bunga sebagai rasa terima kasih pada pembeli”. Namun, WOW tidak berhenti disitu. Hsieh juga membuat WOW untuk karyawan, vendor, dan investor.
8. Buatlah Brand Anda dengan cara yang unik.
Pada saat kita berbicara tentang brand, banyak orang akan berkata, aku suka yang ini, aku tidak. Di Zappos kita mencoba untuk membuat brand sebagai jalan pintas untuk membuat emosi. Contohnya seperti Coke dan Pepsi. Mereka memiliki brang yang kuat karena dukungan jutaan dollar untuk iklan TV. Namun, hal seperti itu sudah tidak berlaku sekarang, mungkin bisa 30 tahun yang lalu. Di Zappos, Hsieh mencoba untuk membuat hal unik dengan cara tidak memberikan phone representatif mereka script. Biarkan mereka bicara sesuka hati tentang Zappos. Kadang pada phone reps suka mengobrol dengan calon pelanggan selama 5-10 menit. Setelah itu biasanya pembeli akan sangat senang dan mungkin saja mereka akan memberitahu teman mereka, kolega atau keluarga tentang Zappos. Intinya adalah buatlah ikatan emosional yang bisa diingat terus.
9. Siapkanlah karyawan Anda untuk masa depan.
Zappos terus berkembang dan akan terus berkembang di masa depan. Cobalah untuk terus menyelesaikan tantangan dan masalah baru. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi 10 tahun dari sekarang. Hsieh melakukan training, mentorship untuk melatih para karyawannya. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan mereka untuk tetap bisa membuat Zappos maju mungkin hingga beberapa dekade ke depan.
10. Milikilah tujuan yang tinggi.
Sebagai karyawan, itu tidak hanya tentang bagaimana cara mendapatkan dollar yang banyak, tetapi juga harus memiliki arti di setiap pekerjaan yang dilakukan. Banyak perusahaan besar memiliki tujuan yang lebih tinggi, tetapi biasanya itu adalah bagaimana membuat untung lebih banyak daripada pesaing. Di Zappos kami memiliki tujuan yang berbeda, yaitu membuat orang menjadi lebih happy. Anda harus bisa menginspirasi karyawan Anda, lebih dari company culture yang terpampang di dinding kantor, tetapi lebih ke bagaimana untuk selalu hidup lebih baik di kehidupan personal dan banyak lainnya.


di plek dari alamat:..
http://startupbisnis.com/bagaimana-membangun-budaya-perusahaan-yang-hebat/