Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2013

BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN

Selama kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”. Pilihannya mungkin dengan jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan, atau bisa juga dengan berguru dan mengabdi pada seorang begawan bisnis.

Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.

Kebanyakan dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang terobsesi.

Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.

Selanjutnya, segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut, dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”, wacana profesionalisme, ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.

Orang-orang awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.

Namun demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses -- lebih spesifiknya pebisnis sukses -- harus menempuh perjalanan yang sarat dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?

Dari berbagai catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.

Di lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?

Ada beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain yang dilakukannya.

Maka jarang kita memperhatikan bahwa sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co. (baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.

Apakah untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan itu ia sukses.

Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP. Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh tokoh-tokoh industri.

Fenomena-fenomena yang dibuat oleh orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Gede Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena polusi-polusi yang dibuat sekolah.

Menurut saya, adalah keliru mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja. Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap abadi.

Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan, sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.

Coba lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.

Lihat juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha (juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta negara-negara blok timur.

“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P (product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.

Tapi, tidak terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang terakhir disebutkan sebagai 12P.

Terus bagaimana? Kalau kita harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?

Saya rasa kita semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan” yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis. Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.

Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”

Saya sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya “The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by working hard..”.

Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya bermain-main.

Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump seorang Raja Properti.

Terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan menjadi pebisnis.

di Plek dari alamat:..
http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/12/bisnis-itu-permainan-bukan-ilmu.html

Sabtu, 29 Juni 2013

Memahami Konsep Kepemimpinan Bisnis Online Jeff Bezos

Kepemimpinan Jeff Bezos
“Work hard, have fun and make history.”
Setelah Steve Job meninggal, Jeff Bezos sekarang menjadi pemimpin dunia IT yang disegani. Pada kesempatan ini, Jeff Bezos memberikan banyak saran kepemimpinan, mulai dari apa yang harus dibaca  hingga bagaimana mengelola stress. Banyak dari saran yang diberikan berhubungan dengan bisnis.  Di bawah ini Jeff Bezos memberikan 10 tips memimpin perusahaan:
1. Mendasarkan strategi Anda pada hal yang tidak berubah
Mulai dari menjual lisptik, traktor, pembaca e-book dan data storage merupakan satu kesatuan dari rencana besar dengan 3 nilai penting yaitu menawarkan banyak pilihan, harga murah dan cepat, pengiriman yang dapat dipercaya.
It helps to base your strategy on things that won’t change. When I’m talking with people outside the company, there’s a question that comes up very commonly: “What’s going to change in the next five to ten years?” But I very rarely get asked “What’s not going to change in the next five to ten years?” At Amazon we’re always trying to figure that out, because you can really spin up flywheels around those things. All the energy you invest in them today will still be paying you dividends ten years from now. Whereas if you base your strategy first and foremost on more transitory things—who your competitors are, what kind of technologies are available, and so on—those things are going to change so rapidly that you’re going to have to change your strategy very rapidly, too. “The Institusional Yes : Harvard Business Review”
2. Terobsesi pada pelanggan Anda
“The most important single thing is to focus obsessively on the customer. Our goal is to be earth’s most customer-centric company.”
Pada awal perusahaan Bezos membeli sebuah kursi kosong di ruang rapat. Para karyawan ditekankan untuk memikirkan kursi kosong tersebut yang merupakan anggota rapat paling penting yaitu pelanggan.  Namun sekarang peran penting itu diperankan oleh karyawan yang sudah diberikan traning. Hasilnya adalah tingkat kepuasan pelanggan meningkat drastis.
3. Kami rela disalah pahami pada jangka waktu yang panjang
Banyak ekspansi bisnis Amazon yang membutuhkan banyak biaya pada awalnya. Ekspansi itu kadang membuat harga saham meluncur ke bawah dan membuat para analis sering mencemooh tindakan yang dilakukan Amazon. Bezos hanya mengangkat bahu sebagai jawaban dari tindakannya tersebut. Jika ada goal strategik yang masuk akal baginya, walaupun membutuhkan lima hingga tujuh tahun baru bisa mendapatkan hasilnya, dia akan melakukannya .
konsep kepemimpinan Jeff Bezos 4. Terdapat 2 jenis perusahaan: perusahaan yang berusaha mengenakan biaya yang tinggi kepada pelanggan dan perusahaan yang mengenakan biaya yang rendah pada pelanggan mereka. Kami akan menjadi perusahaan jenis kedua.
Banyak retailer yang membicarakan penekanan biaya dan penghematan pada konsumen. Sedikit retailer yang sangat sering melakukannya seperti Amazon di mana berhemat merupakan satu dari delapan nilai perusahaan. Hasil dari penghematan perlengkapan kantor yang murah yaitu 90 milyar nilai saham di pasar saham dan pertumbuhan pendapatan sebesar 35 %.
Tipe Kepemimpinan Jeff Bezos 5. Tentukan apa yang dibutuhkan pelanggan, berangkat dari situ, buatlah produk, jangan dibalik
Spesifikasi untuk proyek besar Amazon seperti tablet Kindle dan pembaca e-book sudah ditentukan oleh keinginan pelanggan dibandingkan dibuat berdasarkan keinginan internal engineer dari Amazon. Jika pelanggan menginginkan suatu bagian dalam produk hilang maka itu akan dilakukan walaupun perubahan itu  mungkin akan mengganggu suatu departemen yang kuat di perusahaan.
6. Budaya kami adalah friendly dan kuat, tetapi jika tekanan datang mendorong maka kami akan menyelesaikan dengan sangat baik.
Data merupakan bagian paling penting di Amazon, khususnya hasil tes dari reaksi pelanggan terhadap perbedaan fitur dan desain situs. Bezos menyebutnya “ culture of metrics.”
7. Jika Anda ingin menemukan banyak penemuan, Anda harus berani untuk gagal.
“We are willing to go down a bunch of dark passageways, and occasionally we find something that really works.”
Pada awalnya perusahaan mempekerjakan banyak editor untuk menulis buku dan review musik lalu kami memutuskan menambahkan kritik pelanggan sebagai tambahan. Mencoba fitur auction/ pelelangan menjadi kegagalan kami. Bezos menganggap kegagalan adalah bagian dari perusahaan asalkan Amazon bisa belajar sesuatu yang berguna.
konsep kepemimpinan Jeff Bezos 8. Pada zaman dulu, Anda mencurahkan 30% dari waktu Anda untuk membangun layanan yang baik dan 70% waktu Anda untuk mempromosikannya. Pada zaman sekarang, hukum itu berlaku sebaliknya.
Biaya iklan Amazon termasuk sangat kecil untuk ukuran retailer. Bezos percaya cara marketing dari mulut ke mulut jauh lebih penting dalam zaman digital sekarang jadi dia cenderung menggunakan cara peningkatan proses secara  murah yang berarti membuat pelanggan senang lalu mereka akan memberi tahu orang lain.
9. Setiap orang harus bisa bekerja sebagai call center
Komplain bisa dengan mudah menghancurkan brand Anda pada zaman tweet dan blog sekarang. Bezos meminta ribuan manager Amazon, termasuk dirinya mengikuti training call center selama dua hari setiap tahun. Hasilnya : kerendahan hati dan empati kepada pelanggan Amazon.
10. “This is Day 1 for the Internet. We still have so much to learn.”
Bezos pertama kali melakukan pengamatan terhadap dunia internet pada tahun 1997 yang ada dalam surat awalnya kepada para pemegang saham Amazon. Dia tidak pernah beranjak dari itu walaupun ketika kantor utama Amazon merupakan bangunan terbesar di Day 1 North dan Day 1 South. Dalam wawancaranya Bezos masih mengatakan bahwa internet adalah dunia yang belum bisa dipetakan, tidak bisa dimengerti secara sempurna dan selalu bisa menimbulkan kejutan setiap saat.
11. Fokus pada value dari service Anda, jangan terlalu suka pada “hingar bingar” (shiny things)

There are always shiny things. A company shouldn’t get addicted to being shiny, because shiny doesn’t last. You really want something that’s much deeper-keeled. You want your customers to value your service. And there are companies that haven’t gone through tough times, so they’re not really tested. (Wired : Jeff Besoz own the web in more ways than you think”)
12. Jagalah reputasi Anda dengan selalu melakukan yang terbaik.
A brand for a company is like a reputation for a person. You earn reputation by trying to do hard things well
13. Dalam hiring, jadilah sangat pemilih
“I’d rather interview 50 people and not hire anyone than hire the wrong person.”
Bezos sangat pemilih dalam merekrut orang, dia menyadari culture yang hebat mengalir secara natural dari orang-orang yang Anda bawa dalam tim. Per April 2012, Amazon.com memiliki 56,000 yang merupakan orang-orang terbaik dan paling cemerlang.
14. Imitate
Menjadi unik adalah baik, tetapi lebih baik lagi kalau kita memberikan twist pada sesuatu yang sudah terbukti proven.
We watch our competitors, learn from them, see the things that they were doing for customers and copy those things as much as we can.
Don’t turn a blind eye to your competitors. Chances are they’re doing something you could learn from.
15. Grow Slow 
Berapa lama seharusnya sebuah startup mendapatkan profit ? Mungkin 6 bulan ?
Untuk Jeff Bezos dan Amazon.com, membutuhkan 6 tahun. Profitnya hanya $5 million dari revenue $1 billion.
Terdengar seperti cukup lama dengan margin yang kecil, tapi baik-baik saja menurut business plan Bezos yang bisa dibilang lambat. Bezos tidak terburu-buru mengambil profit karena ia ingin menjaga harga tetap murah.
Strategi ini membuat investor frustasi dalam jangka pendek tetapi terbayar dengan sangat besar ketika Amazon bisa survive dari bubble dot com dan mulai menghasilkan profit lebih besar dari tahun ke tahun.

DI PLEK DARI ALAMAT:..

Jika Tidak Siap Hadapi 4 Hal Ini, Jangan Mulai Bisnis Internet!


Editor’s note : Guest post ini ditulis oleh Andhika Wijaya Kurniawan, Managing Director of Success Professional Learning Center adalah seorang Internet Business Expert, Internet Business Coach, Trainer dan Consultant, telah sukses membantu setiap clients dalam memecahkan masalah dan mengembangkan bisnis baik online maupun offline dan membentuk branding di Internet.

Hai sahabat yang Luar Biasa,

Bisnis di Internet memang memiliki tantangan yang berbeda dengan bisnis secara Offline (konvensional) yang dimana dalam Bisnis di Internet Anda akan dihadapkan dengan seluruh pengunjung atau pengakses Internet dengan berbagai macam karakter serta berbagai macam tujuan (Netizen).
Banyak pelaku Bisnis di Internet (Online) dapat survive lebih dari 5 tahun dalam menjalani Bisnisnya melalui media Internet dan ada juga yang belum mencapai 2 tahun sudah bangkrut dan bahkan banting stir (beralih).
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa bermain dalam dunia Internet/Digital persaingan lebih ketat daripada bermain dalam dunia konvensional akan tetapi peluang dalam dunia digital lebih besar daripada peluang dalam dunia konvensional. Sebagai contoh simple adalah persaingan dalam segi harga bisa berbeda 30%-60% antara sesama Web Developer akan tetapi memiliki kualitas yang tentunya masing-masing berbeda juga.
Ada yang bilang jika ingin mulai bisnis internet (online) harus memiliki kreatifitas agar survive dan saya membenarkan hal itu. Dari beberapa klien yang konsultasi, rata-rata gagal dan bingung mengembangkan bisnisnya di internet bukan karena tidak mampu, akan tetapi tidak dapat menciptakan sesuatu yang menarik atau sesuatu yang membuat bisnisnya unik sendiri sehingga perputaran keuangan atau management keuangan tersendat. Berbeda jika Anda perhatikan orang yang menjalankan bisnisnya di internet dan sukses, mereka rata-rata memiliki program dan perencanaan yang sudah disusun dengan baik yang mampu menarik perhatian Netizen untuk penasaran membaca dan mengikuti bahkan membeli.
Dari kesimpulan tersebut, saya mendapatkan empat hal yang harus Anda siapkan jika ingin terjun dalam membangun dan menjalankan bisnis dengan media Internet (online). Jika tidak siap hadapi dengan empat hal ini, jangan mulai Bisnis Internet (Online).

Menghadapi Penipuan

Dalam bisnis apapun pastinya tidak lepas dari hal penipuan. Dalam konvensional mungkin Anda dapat mencegah dengan melakukan survey terlebih dahulu atau meetup dengan calon pembeli. Akan tetapi dalam bisnis di internet, yang Anda lakukan adalah nekad untuk percaya membeli sebuah produk atau memesan jasa yang ditawarkan. Jika tidak siap, maka jangan pernah terjun dalam dunia digital.
Penipuan dalam dunia digital terhadap Netizen dapat terjadi karena sebuah faktor X yang dimana X tersebut adalah keuangan dan kebutuhan. Sebagai contoh simple, di facebook Anda pasti sering melihat penawaran gadget maupun smartphone dengan harga yang murah meriah daripada distributor resmi dengan alasan produk tersebut adalah black market. Dengan harga murah yang ditawarkan berarti sudah masuk dalam faktor Keuangan, sedangkan gadget adalah salah satu faktor kebutuhan yaitu gaya hidup. Jadi jangan heran jika banyak Netizen yang tergiur dengan harga murah sebuah gadget tanpa memikirkan perbandingan harga terhadap distributor resmi sebuah gadget mapun harga penjualan resmi yang dimana hampir mustahil untuk 50%- 65% lebih murah.

Menghadapi Kompetitor

Dalam bisnis apapun juga pasti memiliki persaing (kompetitor) yang dimana dalam bisnis ada dua jenis kompetitor yang saya andaikan sebagai berikut:
  • Kompetitor Sehat
  • Kompetitor Sakit
Kompetitor Sehat, biasanya adalah kompetitor yang bersaing dengan cara yang baik sesuai dengan etika bisnis. Dimana type kompetitor ini bersaing bukan dengan harga tapi bersaing secara kualitas baik dari segi layanan maupun jasa/produk.
Kompetitor Sakit, biasanya adalah kompetitor yang bersaing dengan cara menjatuhkan melalui cara-cara yang tidak sesuai dengan etika bisnis. Dalam dunia digital, kompetitor sakit atau tidak sehat biasanya akan melakukan atau membuat sebuah blog baru dengan statement yang menjatuhkan Anda. Jika ini terjadi, yang harus Anda lakukan adalah mempertahankan kualitas layanan dan produk/jasa kepada calon konsumen. Sedangkan dalam dunia konvensional, biasanya kompetitor sakit atau tidak sehat ini menggunakan berbagai macam cara untuk menjatuhkan Anda baik dengan fitnah, black magic dan sebagainya.
Dalam facebook, saya pernah berbagi quote yang isinya sebagai berikut:
If you have competitors in business, it’s mean you will learn and grow your business. Another benefit is you will learn about your self Passion to turn your business become better” (Bahasa Indonesia: “Jika Anda memiliki kompetitor dalam bisnis, itu berarti Anda akan belajar dan bisnis Anda berkembang. Keuntungan lainnya adalah Anda akan belejar tentang Passion Anda untuk menjadikan bisnis Anda lebih baik”).
Jadi jika Anda tidak siap dengan kehadiran dua type kompetitor tersebut, maka jangan pernah terjun dalam dunia digital.

Menghadapi Kegagalan

Jika tidak salah, Bob Sadino pernah berkata, “Semakin banyak Anda mengalami Kegagalan, maka semakin cepat Anda akan Sukses/Berhasil” dan saya setuju dengan statement beliau akan tetapi banyak orang yang salah menanggapi statement tersebut. Dalam dunia Bisnis Internet (Online) banyak yang menyerah ketika dalam jangka waktu dua tahun tidak menghasilkan dan akhirnya menutup usaha beserta domain yang sudah dijalani lebih dari satu tahun tersebut.
Kesalahan banyak orang dalam menanggapi statement tersebut biasanya terletak di “Gagal berarti jangan menyerah dan mengulang lagi agar dapat berhasil” yang padahal dari kegagalan adalah supaya kita dapat belajar dari kesalahan dan memperbaiki hal yang salah tersebut untuk di praktekan kembali.
Sebagai contoh kesalahan statement yang paling sering saya lihat adalah ketika seseorang menjalankan toko online dan sepi pengunjung, maka dia membuat domain yang baru dengan menjual produk yang sama dan cara yang sama juga. Jika dilakukan terus menerus tanpa evaluasi kesalahan, maka berapa banyak pun toko online yang dibuat, hasilnya akan sama saja.
Berbanding balik dengan orang yang berhasil menjalankan bisnisnya di internet dan menghasilkan jutaan bahkan ratusan juta dengan proses jatuh bangun (kegagalan) yang dijalankan. Mereka lebih cenderung belajar, evaluasi kesalahan yang pernah dilakukan dan memperbaiki kembali dengan berusaha tanpa menutup usaha yang sedang dijalankan (konsistensi).
Kegagalan umum atau permasalahan umum dalam bisnis internet (online), biasanya bukan karena produk atau jasa yang ditawarkan melainkan kurangnya promosi dan management keuangan.
Kebanyakan pemula (awam) berpikir cukup melakukan promosi satu kali kemudian calon konsumen/pembeli akan datang dan ini adalah kesalahan umum yang sering terjadi selain kesalahan dalam pengaturan/management keuangan.
Saya harap rekan-rekan tidak melakukan kesalahan ini.
Kesalahan lainnya yang fatal adalah terlalu mengandalkan diri sendiri daripada menggunakan seseorang atau memperkerjakan seseorang untuk menutupi kelemahannya. Di dunia digital, ada banyak sekali outsource yang dapat Anda gunakan untuk membantu mengembangkan bisnis yang Anda jalankan melalui media Internet. Sebagai contoh, jika Anda tidak dapat melakukan management keuangan untuk promosi, Anda dapat mencari sebuah agensi iklan untuk membantu manage pengeluaran/budget iklan Anda. Contoh lainnya, jika Anda tidak paham bagaimana cara meningkatkan brand dan profit, Anda bisa mencari sebuah agensi atau pun jasa yang mampu membantu Anda dalam melakukan hal itu.
Jadi jika Anda tidak siap menghadapi kegagalan dan berani memperbaikinya, maka jangan pernah terjun dalam dunia digital.

Menghadapi Diri Sendiri

Ini adalah hal yang tersulit yang banyak menjadi keluh kesah pelaku bisnis di internet. Terkadang permasalahan dalam menghadapi diri sendiri bukan berasal dari dalam diri melainkan lingkungan sekitar. Akan tetapi apapun permasalahan yang diberikan oleh lingkungan sekitar Anda dikembalikan lagi kepada diri Anda sendiri.
Pemikiran Bisnis Internet (Online) yang melekat dalam pemikiran beberapa masyarakat di Indonesia khususnya pemula (awam) adalah bekerja dari rumah, kapan pun dan dimanapun. Atau yang lebih parahnya adalah memiliki pemikiran “duduk, diam dan uang mengalir”. Pemikiran bekerja dari rumah, terkadang mampu memberikan atau mengeluarkan “perasaan malas” dalam diri. Walaupun tidak semunya seperti itu, akan tetapi secara umumnya hal ini terjadi. Karena itu dalam menjalankan Bisnis Internet (Online) harus memiliki komitmen dan konsisten dalam diri yang dimana bukan hanya sekedar menjalankan melainkan mampu mengembangkan.
Jika merasa terganggu dengan keadaan dalam rumah, maka komitmen untuk mengembangkan dengan menyewa sebuah kantor yang dimana Anda bisa tetap konsisten bahkan konsentrasi menjalankan bisnis Anda dengan media Internet. Contoh lainnya adalah jika Anda tetap ingin menjalankan dari rumah akan tetapi tidak ingin ada rasa malas, maka jangan pernah bekerja di dalam kamar. Siapkan satu ruangan untuk Anda bekerja atau menjalankan bisnis Anda di Internet. It’s simple kan?.
Jadi jika Anda tidak siap untuk menghadapi kekurangan dalam diri Anda sendiri, maka jangan pernah terjun dalam dunia digital.
Semoga artikel yang saya bagikan tentang “Jika tidak siap hadapi dengan empat hal ini, jangan mulai Bisnis Internet (Online)” dapat memberikan motivasi dan manfaat bagi Anda.

DI PLEK DARI ALAMAT:.,.
http://startupbisnis.com/jika-tidak-siap-hadapi-4-hal-ini-jangan-mulai-bisnis-internet-by-andhikawijaya/

Kenapa Personal Relationship Sangat Berpengaruh untuk Anda


Editor’s Note : Artikel ini ditulis oleh Reid Hoffman, founder Linkedin dan dipublish di Linkedin.

Tidak perduli seberapa bagus pemikiran atau strategi Anda,  jika bermain solo, Anda akan selalu kalah terhadap sebuah tim.
Relationship berpengaruh karena orang-orang yang menghabiskan waktu bersama Anda akan membentuk siapa Anda sekarang dan nanti. Behavior and beliefs are contagious
Cara tercepat untuk mengubah diri Anda adalah dengan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki sifat yang ingin Anda miliki.
Riset menunjukkan bahwa sebuah tim dalam dunia bisnis cenderung memiliki performa sama setingkat dengan anggota tim yang paling jelek
Walaupun Anda sadar bahwa akan tetap dalam versi beta selamanya, atau perusahaan Anda sudah menghasilkan sebuah competitive advantage, atau Anda sudah mengantisipasi apapun yang terjadi terhadap karir Anda  – walaupun Anda sudah melakukan semua itu, jika ANDA MELAKUKANNYA SENDIRIAN, Anda tidak akan bisa mencapai potensi maksimum dari tujuan Anda.
Para profesional kelas dunia membangun jaringan untuk membantu mereka dalam menghadapi dunia. Tidak perduli seberapa bagus pemikiran atau strategi Anda,  jika bermain solo, Anda akan selalu kalah terhadap sebuah tim. Para atlit membutuhkan pelatih, anak yang cerdas membutuhkan orang tua dan guru, para sutradara membutuhkan produser dan aktor, politisi membutuhkan penyandang dana dan pembuat strategi, ilmuwan membutuhkan partner di lab dan mentor. Ben membutuhkan Jerry. Steve Jobs membutuhkan Steve Wozniak.
Tentunya terlihat bahwa kerjasama tim menghasilkan sesuatu yang lebih baik di dunia startup. Hanya sedikit startup yang didirikan oleh satu orang. Semua orang dalam komunitas entrepreneur setuju bahwa menciptakan tim yang bertalenta adalah hal yang sangat penting.
Sama seperti entrepreneur yang selalu merekrut dan membangun tim yang berisi orang-orang hebat, Anda juga harus selalu berinvestasi dalam profesional network untuk mengembangkan startup yang menjadi karir Anda.
Secara sederhana, jika Anda ingin mempercepat perkembangan karir Anda, Anda membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang lain.
Hubungan dengan orang lain sangat penting untuk karir Anda, tidak perduli organisasi apapun yang Anda ikuti atau tingkat senioritas Anda, karena setiap pekerjaan pada akhirnya mengharuskan interaksi dengan orang lain. Faktanya, kata “company” berasal dari bahasa Latin cum dan pane yang artinya ‘mematahkan roti bersama-sama.’ Bahkan kalau Anda adalah seorang  solo software developer, Anda harus tetap bekerjasama dengan orang lain pada titik tertentu, jika ingin membuat produk yang benar-benar akan digunakan orang lain. Amazon, Boeing, UNICEF, dan Whole Foods, semuanya merupakan organisasi yang berbeda, tapi semuanya adalah people organization. “People”-lah yang mengembangkan teknologi, menulis perencanaan, dan berdiri di balik logo perusahaan.
People adalah sumber daya utama
Sebagai contoh, pertemanan yang sudah berlangsung lama antara saya dan Peter Thiel, yang dimulai sejak kuliah, adalah hal yang menghubungkan saya dengan PayPal. Tanpa hubungan ini, Peter tidak akan pernah menghubungi saya tentang kesempatan yang bisa mengubah hidup saya itu. Sama halnya saat saya mereferensikan Sean Parker dan mark Zuckerberg pada Peter saat masa-masa awal pendanaan Facebook. Dalam aliansi seperti itu, sumber daya mengalir dari kedua belah pihak.
People juga bertindak sebagai gatekeeper. Jeffrey Pfeffer, professor dalam bidang organizational behavior di Stanford, menemukan fakta yang menunjukkan bahwa dalam hal promosi, hubungan yang kuat dan baik dengan bos Anda lebih berpengaruh dibandingkan dengan kompetensi. Ini bukan tentang nepotisme atau politik (walau kadang memang benar). Ada penjelasan yang bagus: seseorang yang kurang berkompetensi tapi berhubungan baik dengan orang lain dan berkontribusi dalam sebuah tim bisa berpengaruh lebih baik pada perusahaan daripada seseorang yang 100 persen kompeten tapi tidak bisa bekerja dalam tim.
Akhirnya, relationship berpengaruh karena orang-orang yang menghabiskan waktu bersama Anda akan membentuk siapa Anda sekarang dan nanti. Behavior and beliefs are contagious, Anda bisa dengan mudah “menangkap” keadaan emosional teman Anda, mengikuti aksi mereka, dan menyerap nilai-nilai yang mereka miliki seolah-olah menjadi milik Anda. Jika teman Anda merupakan orang-orang pekerja keras, kemungkinan Anda juga memiliki sifat yang sama. Cara tercepat untuk mengubah diri Anda adalah dengan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki sifat yang ingin Anda miliki.
Di samping fakta bahwa tidak ada hal penting yang dilakukan sendirian, kita masih hidup dalam budaya yang mengagungkan “hero”. Jika Anda melakukan survey tentang kenapa perusahaan seperti General Electric bisa sebesar sekarang, maka kemungkinan Anda akan mendengar tentang Jack Welch, tapi tidak sedikitpun tentang tim yang dia bangun. Serta jika Anda bertanya tentang cerita karir seseorang seperti Jack Welch, maka Anda akan mendengar bahwa dia bisa mencapai puncak karena kerja keras, kepandaian, dan kreativitas.
Umumnya, segala jenis atribut individual membumbui penjelasan tentang kesuksesan seseorang. Buku-buku yang menjanjikan perubahan hidup masuk dalam rak “self-help”. Seminar yang menjanjikan untuk mengajarkan cara menjadi sukses dikategorikan dalam personal development. Sekolah bisnis jarang mengajarkan kemampuan relationship building. Semuanya tentang saya, saya dan saya. Kenapa kita jarang membicarakan tentang teman, sekutu, dan kolega yang membentuk diri kita sekarang?
Sebagian karena cerita tentang orang yang membangun kesuksesannya sendiri merupakan cerita yang menarik
Cerita yang bagus memiliki awal, tengah, dan akhir, serta drama, penyebab masalah, seorang pahlawan, dan seorang penjahat. Lebih mudah menceritakan sesuatu dengan mengabaikan pemeran yang lain. ”Superman dan 10 rekannya” lebih sulit diucapkan jika dibanding ”Superman.” Kita terus menceritakan cerita seperti ini sejak berabad-abad lalu. Benjamin Franklin sendiri menciptakan dengan indah Autobiografinya sendiri sebagai sebuah pelajaran penting tentang self-making. Orang Amerika cenderung menyukai cerita tentang self-made-man karena mereka adalah negara yang memiliki idola seperti John Wayne dengan individualismenya.
If you study the life of any notable person, you’ll find that the main character operates within a web of support
Tapi narasi yang ada cenderung terlalu menyederhanakan kenyataan. Faktanya, jaringan yang dimiliki Benjamin Franklin berpengaruh besar dalam kehidupan dan kesuksesannya. Sama halnya saat Anda mempelajari tentang kehidupan seorang tokoh terkemuka, Anda akan menyadari bahwa tokoh utamanya beroperasi dalam jaringan dukungan orang lain. Sangat menyenangkan untuk berpikir bahwa kita adalah satu-satunya pahlawan dalam cerita kehidupan kita, tapi kita berada di tengah-tengah kota, perusahaan, keluarga, dan masyarakat umum, sejumlah besar orang-orang yang membentuk, membantu, dan kadang menyakiti diri kita. Mustahil untuk memisahkan seseorang dari lingkungannya. Tidak ada cerita tentang prestasi seseorang yang boleh dipisahkan dari konteks sosial yang lebih luas.
Cerita tentang seseorang yang sukses sendirian mungkin hanya sebuah mitos, tapi pepatah tentang -There is no “I” in “team” -  juga salah. Tentu ada “saya” dalam sebuah “tim”. Sebuah tim terdiri dari individu-individu yang memiliki kelebihan dan kemampuan masing-masing. Michael Jordan membutuhkan timnya, tapi tidak ada yang akan membantah bahwa dia lebih krusial untuk kesuksesan Chigaco Bulls jika dibandingkan dengan rekan satu timnya, dan satu “apel busuk” dalam tim yang sama kuatnya bisa merusak permainan keseluruhan tim. Riset menunjukkan bahwa sebuah tim dalam dunia bisnis cenderung memiliki performa sama setingkat dengan anggota tim yang paling jelek. Talenta individual dan kerja keras Anda mungkin tidak cukup untuk mencapai kesuksesan, tapi tentunya sangat dibutuhkan.
Versi yang berbeda tentang kesuksesan adalah seorang individu dan tim berpengaruh. “Saya” saja atau “Kita” saja adalah pilihan yang salah. Keduanya harus dimiliki. Kesuksesan karir Anda tergantung pada kemampuan individu dan kemampuan jaringan yang Anda miliki untuk memperbesarnya.
Bayangkan “Saya (I)” dipangkat dengan “Kita (We)”. Kekuatan seorang individu ditingkatkan secara eksponen dengan bantuan dari sebuah tim (jaringan). Tapi sama halnya dengan 0 dipangkat dengan 100 manghasilkan nol, tidak ada tim tanpa individual di dalamnya.

DI PLEK DARI ALAMAT:..
http://startupbisnis.com/kenapa-personal-relationship-sangat-berpengaruh-untuk-anda/

Enjoying the Journey! Pemahaman Tentang Passion dan Purpose


Editor’s note : Sebagai entrepreneur startup, Anda membutuhkan dosis passion yang sangat tinggi, karena entrepreneurship banyak menghadapi jatuh bangun.  Salah satu pattern yang saya lihat dari entrepreneurship adalah founder yang baik adalah seorang expert di bidang yang mereka cintai – karena mereka mencintai bidangnya, mereka bukan lagi “termotivasi” tetapi “terobsesi”. Celakanya banyak orang di luar sana mengatakan “Anda tidak bisa menghasilkan uang dengan melakukan apa yang Anda sukai !” Rekan kami Johny Gunawan memiliki tips yang baik terkait hal ini di sini di mana Anda harus menggabungkan What you do well + What you love + What the world needs + What the world will pay for. Berikut ini adalah postingan dari Steve Pavlina tentang “Enjoying The Journey” yang bisa membantu Anda mendefinisikan passion Anda.

Anda harus mengarahkan passion Anda sedemikian rupa sehingga Anda dapat memberi makan diri Anda sendiri.
Fokus pada skill terbaik yang Anda miliki memastikan Anda bekerja secara efisien.
Jika Anda bekerja sangat keras untuk meraih semua tujuan Anda tetapi tidak menikmati perjalanannya, Anda berarti sedang menunda esensi kehidupan.
Berkomitmen pada tujuan Anda bukan berarti Anda menjadi budak di tempat kerja yang Anda tidak sukai tetapi Anda harus bisa merayakan destinasinya. Komitmen yang sebenarnya yaitu Anda mencintai apa yang Anda lakukan setiap hari. Anda setidaknya antusias terhadap hasil yang ingin Anda raih. Jika Anda mencintai journey untuk meraih tujuan Anda, passion akan memotivasi Anda untuk terus mengambil langkah berikutnya.
Tetapi passion sendiri tidaklah cukup.
Passion memerlukan arahan yang terfokus dan arahan tersebut harus meliputi 3 hal berikut : Purpose (tujuan) Anda, bakat (talent) Anda, dan needs(kebutuhan) Anda.
Pertama, purpose(tujuan) dan passion(gairah) berjalan beriringan. Jika Anda tidak tahu purpose(tujuan) hidup Anda maka passion Anda tidak bisa dibimbing dengan kesadaran Anda sendiri. Banyak penjahat kriminal yang melakukan ini – mereka sangat memiliki passion terhadap tindakan tertentu, tetapi tindakan ini tidak dimotivasi oleh purpose yang baik.
Ketika passion dan tujuan terpaku pada arah yang sama, ini artinya Anda telah jatuh cinta pada “path of service”. Anda mencintai apa yang Anda lakukan dan ini juga akan memberikan konstribusi positif kepada dunia. Sinergi tercipta ketika Anda melakukan sesuatu hal yang Anda sukai DAN  Anda tahu bahwa Anda bisa membuat perbedaan pada hal tersebut.
Kedua, passion harus dibarengi dengan talent (bakat) atau skill (kemampuan). Passion dapat membawa Anda jauh lebih baik, tetapi cukup banyak orang yang memiliki passion tetapi tidak berkompeten , namun passion mereka tidak cukup untuk menyelamatkan mereka. Pernahkah Anda bertemu orang yang sangat bersemangat terhadap suatu ide tetapi tidak menindaklanjutinya?
Kabar baiknya adalah talent (bakat) Anda dapat dikembangkan – Anda dapat mengedukasi diri Anda untuk belajar pengetahuan dan keterampilan yang baru. Namun tujuan utamanya di sini yaitu untuk menemukan di mana bakat terbesar Anda. Bakat atau skill apa yang jika serius Anda kembangkan,bisa menjadi sangat kuat bagi Anda? Anda mungkin memiliki beberapa jawaban, tapi jawaban mana yang bisa bersatu dengan passion Anda? Ketika Anda melakukan apa yang Anda sukai DAN Anda menjadi sangat baik dalam hal tesebut, passion Anda akan meningkat dan hasilnya akan lebih baik.
Ketiga, passion harus digabung dengan needs (kebutuhan). Paling tidak, Anda harus mengarahkan passion Anda sedemikian rupa sehingga Anda dapat memberi makan diri Anda sendiri. Tetapi jika Anda menguasai campuran passion, purpose dan talent / skill, maka tidak akan terlalu sulit untuk memenuhi kebutuhan Anda bahkan untuk mencapai kesuksesan secara finansial.
The key to fulfillment is to work from your greatest strengths, with passion, in the service of purpose “Kunci untuk mencapai hal tersebut yaitu bekerja dari kekuatan terbesar Anda, dengan passion, dalam mencapai tujuan”
Fokus pada skill terbaik yang Anda miliki memastikan Anda bekerja secara efisien. Menjadi seseorang yang memiliki passion atas apa yang Anda lakukan berarti Anda akan bekerja keras mengerjakannya. Menjalankan purpose (tujuan) dari diri kita artinya Anda berkontribusi dan membuat perbedaan nyata dalam kehidupan orang lain. Ketika melakukan ketiga-tiganya, Anda berkontribusi secara maksimal, sebisa mungkin yang bisa Anda lakukan, dan apabila Anda tidak dapat menghasilkan pendapatan yang fantastis pun, Anda juga tidak  dapat menghasilkan lebih baik lagi dalam melakukan hal lain. Ini adalah definisi dari “value.” Justru hal ini membuat orang-orang berkeinginan membayar Anda.
Saya percaya bahwa setiap orang dapat menemukan area di mana lingkaran passion, purpose, talent / skill dan needs (kebutuhan) saling tumpang tindih.
Cara terbaik untuk memulai yaitu dengan mendengarkan hati nurani Anda. Setelah Anda tahu, Anda bergerak ke passion dan talent, masing-masing memiliki banyak kemungkinan. Mungkin “hal yang Anda sukai” dan “hal yang Anda sangat baik di dalamnya” berada dalam daftar yang berbeda. Rinci tiap kategori. Kemudian luangkan waktu untuk merenungkan area yang tumpang tindih tersebut, antara tujuan, passion, dan talent/skill. Ingat bahwa talent dapat diganti dengan pendidikan tambahan dan pengembangan keterampilan.
Bila Anda menemukan area yang tumpang tindih antara purpose, passion, dan talent/skill, kebutuhan cenderung cukup mudah untuk dipenuhi. Ketiga area pertama ini dapat menjadi karir yang potensional. Berikut cara lain untuk memahaminya :
Needs (Kebutuhan) = Apa yang wajib Anda lakukan
Talent / Skill (Bakat/Kemampuan) = Apa yang bisa Anda lakukan dengan baik
Passion (Gairah) = apa yang Anda suka lakukan
Purpose (Tujuan) = apa yang harus Anda lakukan
Banyak orang melihat 4 area ini sebagai konflik. Berapa kali Anda mendengar orang-orang pesimis mencemooh Anda seperti “Anda tidak bisa menghasilkan uang (needs/kebutuhan) dengan melakukan apa yang Anda sukai (passion) !”
Nonsense.
Saya percaya setiap orang dapat menemukan jalannya sendiri dengan keempat area selaras ini. Anda dapat menemukan cara untuk bekerja dengan kekuatan terbesar Anda, melakukan apa yang Anda sukai sebagai tujuan mulia, dan mengurus semua kebutuhan dasar Anda – bahkan sampai berlimpah.
Tetapi langkah pertama adalah keputusan untuk melakukannya. Memutuskan bahwa hidup Anda cukup layak untuk mendapatkan keempat area yang bekerja bersamaan ini. Anda tidak harus jatuh terlebih dahulu dalam melakukan apa yang Anda sukai. Anda tidak harus bekerja pada pekerjaan yang Anda benci. Anda tidak harus melihat kontribusi yang berarti sebagai sesuatu yang sinkron dengan realita sehari-hari Anda.
Luangkan waktu untuk merenungkan karir seperti apa, hidup seperti apa, yang memungkinkan Anda untuk menempatkan keempat area tersebut secara harmonis sehingga semuanya menunjuk pada satu arah. Tidak ada konflik. Percayalah hal ini dapat dilakukan.

DI PLEK DARI ALAMAT:..
http://startupbisnis.com/enjoying-the-journey-pemahaman-tentang-passion-dan-purpose/

Bagaimana Young Entrepreneur Me-Manage Karyawan

Pertengahan Oktober 2012, tim Startupbisnis sedang menghadari event Hackaton TechinAsia, setelah event tim kami dan beberapa rekan dari Hackerspace Bandung, Cacoo, Makemac, Wowrack dan Touchten ngumpul untuk unofficial afterparty kecil-kecilan. Tidak lupa kami juga menyempatkan diri bertemu beberapa follower startupbisnis di Bandung untuk kenalan dan mendengarkan masukan mereka untuk startupbisnis juga menanyakan apakah ada yang bisa dibantu.
Salah follower yang kami temui , merupakan young entreprneur yang masih sangat muda, kelas 3 SMA, menanyakan situasi yang menarik :
Karyawan di restoran kami yang usianya jauh lebih tua dari kami sering datang terlambat, sering meninggalkan pekerjaan di jam-jam ramai, apa yang harus kami lakukan?
Kebetulan di samping kami ada beberapa rekan yang bisa “diseret” untuk memberikan masukan. Berikut ini jawaban dari Rudy Setiawan, Global Business Development dari Wowrack.
Pertama kali, “listening” dulu sebelum memberikan teguran, tanya sebabnya apa ?  Kenapa ia begitu ? Dengarkan dulu pendapat dari sisinya dia. Belum tentu apa yang kita pikirkan tentang dia benar 100%.
Yang ke-dua, buat kesepakatan.
Membuat kesepakatan adalah hal yang biasa dilakukan ketika menerima karyawan baru dan diingatkan kembali saat ia melakukan pelanggaran. Kesepakatan yang dibuat adalah hal-hal seperti jam kerja, load kerja dan ketentuan-ketentuan detil lainnya yang dianggap penting.
Yang ke-tiga, beri batas peringatan 3x.
Kita menyampaikan pada karyawan bahwa setiap dia melakukan pelanggaran, apabila dirasa perlu kita akan memberikan peringatan dan apabila peringatan sudah sampai yang ke-3 berarti sudah saatnya ia mencari pengganti. Namun diusahakan ia tidak melakukan pelanggaran sampai 3x.
Di ruang itu, kebetulan juga ada Tyohan dari Hackerspace Bandung, yang memberikan saran kepada seorang entrepreneur muda di depan saya, kurang lebih seperti ini :
Lulus kuliah adalah hal yang penting untuk entrepreneur. Karena sebagai entrepreneur, akan penting untuk membangun partnership dengan pihak lain yang bonafit, sering kali calon partner kita saat ngobrol-ngobrol menanyakan “kamu kuliah di mana?” akan berbeda mimik wajahnya ketika kita menjawab “kuliah di ITB” dengan “kuliah di Universitas Maju Mundur” hal penting lainnya dari universitas adalah belajar bertanggung jawab dan membangun mindset sebagai seorang profesional entrepreneur.
Semoga bermanfaat untuk rekan-rekan.

DI PLEK DARI ALAMAT:..
http://startupbisnis.com/bagaimana-young-entrepreneur-me-manage-karyawan/

Inovasi Dihasilkan dari Adu Argumentasi, Bukan Hanya Brainstorming

Editor’s note : Daniel Sobol adakah design strategist di Continuum, perusahaan konsultan inovasi dan design product

Kita membutuhkan tempat di mana seseorang akan melempar idenya dan orang lain akan memberikan kritik tetapi orang tersebut tidak merasa dihakimi

Di Continuum, rahasia inovasi adalah “diskusi konsultatif” atau biasa disebut deliberative discourse. Di bawah ini bagaimana Anda juga bisa melakukannya.
Brainstorming muncul sebagai cara untuk memunculkan ide sejak tahun 1940 namun ternyata brainstorming bukan cara terbaik untuk mendapatkan inovasi. Jonah Lehrer dalam artikelnya di The New Yorker dan Susan Cain dalam buku barunya Quiet menegaskan bahwa brainstorming bukan merupakan cara terbaik untuk mendapatkan inovasi. Ilmuwan menunjukkan bahwa brainstorming dapat mengaktifkan rasa takut neurologis akan penolakan dan ide dari sekelompok orang yang brainstorming juga tidak selalu lebih kreatif dibandingkan ide dari seorang individu. Brainstorming sebenarnya bisa menghambat munculnya ide yang bagus.
Tetapi brainstorming memang bertujuan untuk berinovasi, untuk berinovasi kita membutuhkan lingkungan yang mendukung imajinasi dan sebuah tempat di mana kita bisa mengeluarkan banyak ide gila, ide-ide dengan perspektif berbeda atau bahkan ide buruk di antara ide baik. Kita perlu bekerja secara kolaboratif dan secara individu. Kita juga membutuhkan waktu berdiskusi yang cukup bahkan berdebat. Kita membutuhkan tempat di mana seseorang akan melempar idenya dan orang lain akan memberikan kritik tetapi orang tersebut tidak merasa dihakimi yang mengakibatkan dia menjadi defensive dan mematikan idenya. Namun proses ini tidak disupport oleh prinsip – prinsip brainstorming tradisional yang lebih mementingkan kolaborasi kelompok dan semua ide yang muncul akan dianggap sama tanpa penilaian.
Tetapi apabila tidak dengan brainstorming, dari mana kita bisa mendapatkan ide yang bagus?
Di Continuum, kami menggunakan “deliberative discourse” atau biasa kita sebut “Debat dan Diskusi” atau “diskusi konsultatif.” Cara ini pertama kali diciptakan oleh Aristoteles. Cara ini lebih menekankan pada komunikasi partisipatif dan komunikasi kolaboratif (tetapi bukan berarti tanpa kritikan). Berbagai posisi dan pandangan memberikan pendapat dengan pengertian akan satu tujuan yang ingin dicapai. Tidak ada hirarki dalam diskusi tersebut. Ini juga bukan merupakan debat karena tidak ada dua bagian yang berlawanan untuk menang. Tetapi lebih pada bekerja bersama untuk memecahkan suatu masalah dan membuat sebuah ide baru.
Jadi kami berdebat lalu berdiskusi kemudian berdebat lagi itulah yang kami lakukan. Tetapi proses diskusi kami bebas dari teriakan dan pertengkaran.
Di bawah ini 5 kunci utama agar bisa menciptakan diskusi yang baik dan pada akhirnya memunculkan ide yang brilian
1. Hilangkan hirarki dan struktur
Menghapuskan hirarki merupakan kunci penting dalam diskusi dan perdebatan. Sangat penting untuk menciptakan tempat dimana semua orang bisa berkontribusi di dalamnya. Pada minggu pertama saya di Continuum, saya bergabung dalam tim yang terdiri dari 3 orang diantaranya satu senior dan satu kepala strategik. Dalam tim tersebut, saya merupakan anggota termuda.
Dalam sesi pertama, kepala strategic melihat saya dan berkata,”Anda seharusnya tahu Anda tidak bekerja apabila Anda tidak membantah saya minimal sekali sehari.” Dia memberikan izin saya untuk mengeluarkan pendapat saya secara terbuka, tanpa memperhatikan senioritas. Tidak adanya hirarki membuat ruang di mana ide bisa ditemukan dan mendapatkan tantangan dari setiap orang tanpa ketakutan di dalamnya.
2. Katakan “Tidak, KARENA …”
Pada umumnya, kesuksesan brainstorming bergantung pada penerimaan dari semua ide dan tidak adanya penilaian di dalamnya. Banyak aturan pada brainstorming yang memicu orang berkata “Ya, DAN…” yang bertujuan untuk menambahkan ide orang lain. Dulunya saya juga seperti itu, saya selalu mengatakan “Ya, DAN … ”.
Tetapi sekarang saya juga suka mengatakan “Tidak, KARENA …”. Perkataan “tidak” merupakan bagian dari proses diskusi, tetapi apabila Anda ingin mengatakan tidak, maka Anda wajib mengutarakan alasannya. Mempersiapkan alasan dari sebuah perkataan “Tidak” merupakan bagian dari diskusi yang konsultatif. Dan alasan yang diberikan harus bisa mewakili orang banyak dan bukan dari ego sendiri.
Selama diskusi mengenai ide, kami kembali berfokus pada orang, dengan bertanya satu per satu jika ide kami sudah memberikan solusi atas kebutuhan yang mereka butuhkan atau masalah yang kami lihat. Ini yang mempertahankan kami tetap dapat dipercaya akan suatu hal dibandingkan dengan ide berdasarkan diri sendiri, dan itu berarti kami bisa men-challenge ide rekan kerja tanpa membawanya ke ranah personal.
3. Sudut pandang yang bervariasi
Kita semua pernah mendengar mengenai teori “ T-shaped people” dan membangun tim dengan disiplin ilmu yang berbeda. Model ini bekerja pada kami karena deliberative discourse membutuhkan sudut pandang berbeda untuk membentuk sebuah ide.
Kami membentuk tim yang mempunyai anggota yang bervariasi: Anda bisa berjalan ke ruangan project dan Anda bisa menemukan seorang seniman berubah menjadi orang strategik, seorang profesor Inggris menjadi ahli inovasi secara bersamaan. Dan sebenarnya background saya adalah dalam bidang seni teater dan antropologi.
Ketika kami masuk dalam deliberative discourse, perdebatan dan diskusi setiap orang membawa pandangan berbeda dalam melihat masalah dan menyelesaikan masalah dalam sebuah diskusi.
4. Fokus pada tujuan
Sebuah diskusi konsultatif bukan hanya perdebatan untuk mempertahankan alasan.  Argumen akan menjadi lebih produktif untuk kami apabila semua orang mengerti bahwa kami bekerja untuk sebuah tujuan yang sama.
Kami menuliskan sebuah kalimat tujuan dari setiap projek dan kami menempelkannya pada pintu ruangan projek. Setiap hari ketika kami melewati ruang itu, kami akan baca dan kemudian masuk ke ruangan tersebut yang kami sebut “playing field”.
Tujuan yang ditetapkan bertujuan untuk mengingatkan kami bahwa kami bekerja bersama untuk menuangkan semua ide dalam projek tersebut. Semakin banyak kami berdebat dan berdebat, apapun yang terjadi dalam ruangan tersebut selalu bertujuan untuk mencapai tujuan tersebut. Ini memungkinkan kami untuk berdebat dan berdiskusi tanpa menyakiti hati orang lain.
5. Ciptakan suasana yang menyenangkan
Kami mengerjakan projek dari bank skala global hingga perusahaan medis untuk menyelamatkan orang miskin. Pekerjaan kami membutuhkan kekuatan, perhatian dan ketelitian. Tetapi bagaimanapun sudah merupakan hal alami bagi kami dalam mengerjakan sebuah projek, kami selalu membuatnya menjadi menyenangkan. Sangat langka apabila Anda bisa melihat kami menghabiskan waktu satu jam tanpa adanya suara tertawa dari ruang projek. Sebuah diskusi konsultatif merupakan salah satu bentuk permainan, dan kami bermain untuk mencari ide brilian, tetapi kami juga harus menganggapnya serius.

DI PLEK DARI ALAMAT:..
http://startupbisnis.com/inovasi-dihasilkan-dari-adu-argumentasi-bukan-hanya-brainstorming/

Konsep Apa yang Berjalan Baik di Facebook tetapi Tidak di Google ?

sisi di kantor facebook Editor’s note : Apakah perbedaan dari Google dan Facebook ? Edmond Lau, ex engineer di Google search memiliki pandangan yang unik dan telah divalidasi oleh rekan-rekannya.

Google dan Facebook adalah dua perusahaan yang sangat inovatif, profitable dan banyak mengubah cara manusia mendapatkan informasi. Menariknya, terdapat perbedaan cara dan prinsip keduanya yang bisa saja membawa perbedaan kepada masa depan keduanya.
Filosofi organisasi terbesar yang bekerja baik di Facebook tetapi tidak berjalan di Google adalah prinsip  “Move fast and break things.”  Dalam form S-1 yang disubmit Zuckerberg kepada SEC sebelum IPO, ia mengatakan “Jika kamu tidak menabrak apapun, kamu mungkin tidak bergerak cukup cepat”.
Sedangkan di Google menganut prinsip : “If you break something, would be that you didn’t do enough testing”,  jika kamu menabrak sesuatu, mungkin kamu tidak cukup melakukan testing.
Hal ini diterjemahkan menjadi beberapa perbedaan dari segi operasional :
  • Engineer di Facebook bisa mendapatkan iterasi produk *) lebih cepat dari Google. Prinsip “bergerak cepat” di Facebook menghasilkan moto lain “ ship early and ship often” yang secara cultural tidak tertanam di Google.
  • Google secara umum lebih menghasilkan code program yang berkualitas karena lebih banyak dites karena Google menganggap “not breaking things is important” tetapi “shipping later” atau “di-launch nanti” berarti Google juga belakangan mendapatkan user feedback dan mendapatkan lebih sedikit user feedback sehingga terdapat lebih banyak kemungkinan untuk Google melakukan “overdesign” atau “overspec” bila secara relatif dibandingkan dengan Facebook.
  • “Moving fast” membantu Facebook untuk menempatkan lebih banyak “taruhan” atau bets dan memvalidasi lebih banyak ide dengan menghabiskan lebih sedikit effort per idenya, yang berarti lebih cepat memfokuskan diri pada ide yang memiliki impact paling besar, sebaliknya Google memiliki kemungkinan lebih besar dibandingkan Facebook untuk melakukan “over-invest” pada produk dan fitur yang pada ujungnya tidak terpakai karena tidak cukup memvalidasi ide.
Facebook memiliki size sekitar sepersepuluh jumlah karyawan dibandingkan Google, jadi waktu akan membuktikan apakah culture “moving fast and breaking things” bisa terus berjalan dan scale di saat perusahaan ini tumbuh dan semakin banyak hal untuk ditabrak.
Terdapat point of view lain bahwa culture ini tergantung dari jenis produk atau servicenya. Google memiliki banyak paid services dan tidak bisa banyak menggunakan prinsip “‘move fast and break things’. Sedangkan konten Facebook lebih bersifat ”disposable”, jadi culture seperti ini bisa digunakan untuk produk seperti ini.

*) Pengertian “iterasi produk” secara casual adalah produk tidak berlama-lama berada di dalam kantor tetapi secepatnya dilempar ke customer untuk mendapat feedback, setelah mendapat feedback, tim engineers memperbaikinya, lalu dilempar lagi ke market. Pergerakan produk dari ruang produk development/engineer ke market disebut dengan iterasi. Iterasi produk adalah konsep yang penting dalam lean startup karena semakin cepat iterasi dilakukan, penerimaan market semakin baik.

DI PLEK DARI ALAMAT:,...
http://startupbisnis.com/konsep-apa-yang-berjalan-baik-di-facebook-tetapi-tidak-di-google/

Sebenarnya Siapa yang Anda Lawan Sebagai Sebuah Startup? Mungkin bukan kompetitor!

meow-fight

Editor’s note : Ini adalah tulisan dari Elisha Tan, Founder Learnemy, startup dari Singapura yang merupakan “marketplace kursus” (benchmark : Skillshare) di mana tak lama setelah ia melaunch Learnemy, muncul kompetitor baru, Kezaar.com dengan tim founder yang lebih banyak dan memiliki pengalaman industri yang panjang. Tak lama kemudian,  Willis Wee dari Techinasia menulis “Hello Learnemy, Kezaar is your competitor, now fight !” yang secara langsung membandingkan Learnemy Vs Kezaar, lengkap dengan gambar kucing sedang berkelahi. Elisha Tan founder Learnemy menghadapi situasi ini memberikan respon yang membuat kita kembali memikirkan “siapa sebenarnya kompetitor kita ?”.  Respon ini sangat brilian sehingga kami memutuskan memuatnya di Startupbisnis. 
Sebagai informasi untuk Anda, tech startup scene di Singapura memiliki banyak perbedaan dengan Indonesia, salah satunya startup Singapura sejak awal harus mentarget dunia karena marketnya yang kecil, penetrasi internet dan smartphone di Singapura juga sangat tinggi. Orang-orang Singapura juga populer disebut memiliki “kiasu mentality” yang sejak kecil dididik memiliki sifat pantang menyerah dan competitive yang sangat tinggi.


Saya membaca artikel dari Willis Wee beberapa minggu lalu dan artikel itu membuat saya berpikir tentang ‘bertarung’ dengan kompetitor.
Apakah saya, sebagai sebuah startup, benar-benar ingin bertarung dengan kompetitor saya seperti Kezaar?
Tidak.
Karena saya memilih pertarungan-pertarungan saya dan memiliki sesuatu yang lebih besar untuk diperjuangkan.

1. Bertarung Melawan Status quo

Saya suka kemenangan. Tapi saya tidak memulai startup hanya untuk bisa membuktikan pada diri sendiri dan orang lain bahwa saya bisa menang dalam lingkungan startup. Saya mendirikan Learnemy karena saya percaya bahwa orang-orang pasti bisa menjalani dan membiayai hidup dengan melakukan apa yang mereka sukai.
Saya percaya bahwa ada perbedaan antara ‘being alive’ dan ‘living’. Di Singapura, kami sangat beruntung karena memiliki tempat tinggal, makanan, dan keamanan, tapi seberapa banyak dari kita yang benar-benar hidup? Saya mengerti bahwa hal tersebut sulit dicapai karena di Singapura banyak passion yang dipasangkan dengan karir yang “tidak ada masa depan”.
Saya bertarung melawan status quo ini dengan memungkinkan orang-orang untuk mampu membiayai hidup dengan mengajarkan ilmu pada mereka. Saya bertarung untuk sesuatu yang saya percayai. Anda bisa membaca lebih banyak tentang alasan kenapa saya memulai Learnemy dalam blog post ini.

2. Bertarung melawan kondisi di mana Anda tidak dikenal publik

‘Setan’ terbesar yang dilawan oleh semua startup bukanlah kompetitor, melainkan kondisi tidak dikenal. Anda bisa saja menjadi yang pertama dalam sebuah pasar, atau satu-satunya dalam pasar tersebut, dan akan tetap gagal jika tidak ada yang peduli dengan produk Anda. Faktanya, kompetisi adalah validasi bahwa Anda tidak bodoh (atau bukan satu-satunya yang bodoh). Jika Anda sendirian dalam sebuah pesta, maka mungkin Anda berada di tempat yang salah.
Inilah alasan kenapa Anda harus menemukan kecocokan antara produk dan market (product market fit). Bagaimana Anda membuat target pasar Anda peduli pada Anda? Bagaimana caranya agar Anda tidak terlupakan oleh mereka? Banyak startup yang mati dalam proses berusaha menemukan kecocokan itu. Sebagai startup yang masih baru, seperti Learnemy dan Kezaar, kami lebih peduli untuk bertarung demi tetap survive, dan melawan kondisi tidak dikenal, daripada bertarung satu sama lain.

3. Bertarung melawan diri sendiri

Saya mengetahui tentang Kezaar sebelum artikel tersebut. Saya mengetahui bahwa ada beberapa perusahaan serupa sebelum saya memulai. Mungkin ada lebih banyak perusahaan yang harus saya ‘pukul’ dibandingkan kemampuan memukul saya. Tapi tidak ada yang sebanding dengan ‘pertarungan internal’ dengan diri saya sendiri.
Saya memulai Learnemy beberapa bulan setelah lulus kuliah sebagai founder solo dan non-teknikal. Saya tidak memiliki tim, tidak bisa menulis kode dengan lancar, dan baru merilis versi beta setelah tahun pertama. Saya bukan veteran dalam dunia startup, atau veteran dalam industri apapun seperti tim yang ada di balik Kezaar. Keberuntungan tidak ada di pihak saya, tapi perbedaan besar ini tidak menggangu saya dibanding fakta bahwa saya mengetahui seberapa banyak lagi yang bisa dikerjakan tapi belum saya lakukan.
Saya bukannya mengutuk diri sendiri, saya bangga pada asal dan hal-hal yang sudah saya pelajari. Tapi sekaligus menyadari dengan jelas bahwa banyak yang masih bisa dikembangkan. Jika ada sebuah daftar yang harus saya lawan, maka kompetitor ada di urutan paling bawah. Faktanya, saya malah mengagumi para kompetitor. Tidaklah mudah untuk membuat bisnis marketplace, apalagi yang sukses. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka.

di plek dari alamat:..
http://startupbisnis.com/sebenarnya-siapa-yang-anda-lawan-sebagai-sebuah-startup-mungkin-bukan-kompetitor/

Bagaimana Membangun Budaya Perusahaan yang Hebat

blogimage
Editor’s note : Saya pernah bekerja di beberapa korporasi dan juga startup sebelumnya, banyak dari perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya tidak pernah menanyakan “seperti apa seharusnya perusahaan ini?” , ada juga pimpinan perusahaan yang sering bercanda hal-hal yang aneh dan cenderung jorok – belakangan saya paham maksudnya adalah supaya tidak ada batasan yang terlalu kaku antara atasan dan bawahan, ada juga yang bilang konsep Zappos tidak bisa diterapkan di Indonesia karena SDM di Indonesia tidak sebaik di US. Tetapi yang pasti budaya perusahaan bisa di set dari awal, mumpung masih startup.  Artikel ini berisi pengetahuan yang Anda butuhkan untuk membangun budaya perusahaan. Artikel lain mengenai budaya Zappos bisa Anda baca di : Kebahagiaan di balik kesuksesan Zappos oleh Stephawie

Pada saat Tony Hsieh berumur 9 tahun, dia pernah berbisnis cacing dengan investasi awal $33 yang didapat dari orang tuanya yang berdarah taiwan. Pada saat itu dia memulai bisnisnya. Dia memulai bisnis kecilnya ini di belakang rumahnya. Namun, sayang sekali, ratusan cacingnya mati, entah karena kabur atau dimakan burung. Namun, hal ini tidak meruntuhkan semangatnya untuk berbisnis.
Pada usia 22 tahun, dia memulai bisnis barunya, LinkExchange, yang dijual ke Microsoft seharga $265miliion. Kemudian diusia 24, Hsieh bingung ingin melakukan apalagi dengan uang sebanyak $80million. Setelah berpikir akhirnya dia memutuskan untuk membuat venture capital bernama VentureFrogs. Namun, dia memutuskan untuk berhenti karena berinvestasi membosankan.
replacement-words
Akhirnya, dia berpikir, walaupun dia tidak pernah bekerja di kantor sebelumnya, mengapa orang berangkat kerja jika dia tidak ingin bekerja. Akhirnya ia membangun Zappos, menjadi CEO dan dalam setahun bisa menggandakan keuntungannya dalam menjalan bisnis online shop sepatu dengan revenue $1billion pada 2008. Pada saat Zappos berkembang dia menjadi ambisius untuk membuat company culture yang tidak saja mengayomi karyawan tetapi juga mewujudkan “pekerjaan yang menyenangkan”. Dengan buku best-selling dan seminar-based company, zappos insight, yang membantu company lain untuk membangun culture company yang baik, Hsieh menjadi pionir dalam mengembangkan culture di zappos yang tidak saja untuk menjual sepatu, tetapi juga membuat “dunia menjadi lebih menyenangkan”.
Company yang baik memiliki culture kuat yang menjunjung values. Tidak penting values seperti apa, yang penting setiap company harus memilikinya. Jika Anda ingin company Anda menjadi kuat, Anda harus menemukan nilai itu.
Berikut 10 hal yang bisa Anda dapatkan dari Tony Hsieh :
1. Carilah Nilai Personal Anda.
Sebelum Anda menemukan nilai company Anda, Anda harus menemukan Nilai Personal Anda. Cobalah untuk membuat peta timeline kehidupan Anda. Carilah “the peak moments”.  Setiap orang pasti memiliki nilai yang berbeda dari peak momentsnya. Sebagai contoh jika Anda mendapatkan football championship di SMA, itu berarti nilai yang Anda dapatkan adalah kerja keras dengan terus menerus dan teamwork. Kemudian cobalah lihat the low moments. Ini mungkin yang membuat sesuatu hilang dari nilai yang Anda anut. Kemudian cobalah untuk membuat list teman Anda. Anda mungkin memiliki dan sharing nilai personal yang sama. Kemudian cobalah untuk membuat list orang yang Anda tidak sukai. Mungkin ada sesuatu yang disconnect dengan mereka. Pasti Anda pernah berteman dengan mereka awalnya, tuliskan mengapa Anda sekarang membenci mereka ? Dengan cara seperti ini Anda akan menemukan core values dari company Anda.
2. Samakan values Anda dengan karyawan Anda
Mungkin jika karyawan Anda sedikit, ini bukan masalah, tetapi Zappos baru mengetahui ini penting pada saat mereka memiliki 100 lebih karyawan. Nilai yang Anda dan karyawan Anda anut harus berjalan bersama. Karyawan memiliki nilai kebersamaan dengan Anda jika mereka ikut membangun company.
Di Zappos, Hsieh mencoba dengan menuliskan email untuk karyawannya dengan tulisan “Bagaimana seharusnya Zappos ?”. Banyak email masuk setelah itu dan setelah diskusi panjang Hsieh mendapat 35 core yang potensial yang kemudian digabungkan dengan ditulis ulang menjadi 10 yang bukan hanya dihafal tetapi juga di lakukan. Mungkin ini merepotkan, tetapi dengan hal ini semua elemen karyawan memiliki rasa memiliki dengan company

Mengapa orang berangkat kerja jika dia tidak ingin bekerja ?

3.  Rekrut dan keluarkan orang sesuai values.
Sulit untuk menemukan orang yang memiliki culture/attitude baik dan ahli di bidangnya. Pada saat Zappos ingin meng hire orang, mereka akan meng invterview seperti biasa ditambah dengan pertanyaan tentang nilai inti dari perusahaan. Karena jika itu sudah sama, maka mereka akan otomatis menjadi bagian dari Zappos.  Begitu pula sebaliknya, jika ada karyawan yang tidak menghargai nilai inti, maka mereka tidak akan mempertahankannya. Mungkin dia adalah superstar di kantor Anda, dengan tingkat keahlian tinggi, tetapi jika Anda terus mempertahankan orang seperti ini maka pada saat perusahaan Anda besar, perusahaan Anda akan kehilangan nilai dan nantinya itu akan lebih rugi daripada memecatnya di awal. Biasanya di Zappos, proses pemecatan memakan waktu setengah tahun dan memang tidak mudah.
4. Ambil keputusan sesedikit mungkin.
Hsieh sebagai CEO berpikir bahwa dia harus bisa mengambil keputusan sesedikit mungkin karena Zappos memiliki culture bottom-up (keputusan diambil dari bawah) di mana dia hanya membantu menyingkirkan rintangan yang ada saja, tetapi tidak mengambil banyak keputusan.
5. Buatlah koneksi.
Dikelilingi oleh banyak orang pasti membuat Anda terisolasi. Di Zappos, Hsieh mencoba untuk merajut semua karyawan menjadi satu dengan cara membuat Face Game. Caranya adalah, pada saat karyawan membuka komputer mereka harus menebak foto siapa ini dengan pilihan ganda. Setelah itu profile orang tersebut akan keluar. Disinilah Zappos melakukan koneksi.
zcltdesks
Just like home (http://blogs.zappos.com/taxonomy/term/21519)
6. Buat Culture selalu hidup.
Zappos memiliki culture yang selalu berkembang berdasarkan keingingan karyawan apakah mereka senang atau tidak dengan culture yang ada. Karyawan di Zappos sering memiliki ide gila dan random. 7 tahun lalu bahkan ada seseorang yang melakukan ide membuat parade antar departement. Ide tersebut kemudian menjadi culture di Zappos. Sekarang Anda tidak tahu kapan ada parade. Setiap minggu kadang ada karyawan yang memakai kostum super hero, hanya mengenakan celana dalam, oktoberfest dan lainnya. Mereka membuat makanan, menyalakan musik dan hal-hal gila serta random lainnya. “Di sinilah kami membuat karyawan merasakan energy dan merasakan bekerja tidak seperti bekerja.”
7. Tanamkan” WOW”.
Culture Zappos yang pertama adalah untuk membuat  WOW dengan service yang memuaskan. Zappos menggunakan WOW sebagai kata kerja. Untuk Hsieh sendiri, WOW berarti memberikan service di atas rata-rata di atas kata WOW itu sendiri. Contohnya 10 tahun lalu, Zappos menawarkan free shipping dengan WOW yang besar. Pembeli dapat memilih 10 pasang sepatu dan mencobanya di rumah. Jika ada dari 10 pasang itu yang tidak dimininati atau kurang cocok dengan baju Anda, Anda bisa mengembalikannya gratis. Di situlah Hsieh membuat pembeli percaya pada Zappos.  ”Kadang kami membuat gambar dan bunga sebagai rasa terima kasih pada pembeli”. Namun, WOW tidak berhenti disitu. Hsieh juga membuat WOW untuk karyawan, vendor, dan investor.
8. Buatlah Brand Anda dengan cara yang unik.
Pada saat kita berbicara tentang brand, banyak orang akan berkata, aku suka yang ini, aku tidak. Di Zappos kita mencoba untuk membuat brand sebagai jalan pintas untuk membuat emosi. Contohnya seperti Coke dan Pepsi. Mereka memiliki brang yang kuat karena dukungan jutaan dollar untuk iklan TV. Namun, hal seperti itu sudah tidak berlaku sekarang, mungkin bisa 30 tahun yang lalu. Di Zappos, Hsieh mencoba untuk membuat hal unik dengan cara tidak memberikan phone representatif mereka script. Biarkan mereka bicara sesuka hati tentang Zappos. Kadang pada phone reps suka mengobrol dengan calon pelanggan selama 5-10 menit. Setelah itu biasanya pembeli akan sangat senang dan mungkin saja mereka akan memberitahu teman mereka, kolega atau keluarga tentang Zappos. Intinya adalah buatlah ikatan emosional yang bisa diingat terus.
9. Siapkanlah karyawan Anda untuk masa depan.
Zappos terus berkembang dan akan terus berkembang di masa depan. Cobalah untuk terus menyelesaikan tantangan dan masalah baru. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi 10 tahun dari sekarang. Hsieh melakukan training, mentorship untuk melatih para karyawannya. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan mereka untuk tetap bisa membuat Zappos maju mungkin hingga beberapa dekade ke depan.
10. Milikilah tujuan yang tinggi.
Sebagai karyawan, itu tidak hanya tentang bagaimana cara mendapatkan dollar yang banyak, tetapi juga harus memiliki arti di setiap pekerjaan yang dilakukan. Banyak perusahaan besar memiliki tujuan yang lebih tinggi, tetapi biasanya itu adalah bagaimana membuat untung lebih banyak daripada pesaing. Di Zappos kami memiliki tujuan yang berbeda, yaitu membuat orang menjadi lebih happy. Anda harus bisa menginspirasi karyawan Anda, lebih dari company culture yang terpampang di dinding kantor, tetapi lebih ke bagaimana untuk selalu hidup lebih baik di kehidupan personal dan banyak lainnya.


di plek dari alamat:..
http://startupbisnis.com/bagaimana-membangun-budaya-perusahaan-yang-hebat/

Kamis, 27 Juni 2013

Lupakan Passion, Fokuslah Pada Proses

Masalah yang bisa timbul dari pepatah “follow your passion” adalah : Kita tidak dapat mencintai semua yang kita kerjakan. Seseorang harus dapat melakukan pekerjaan dan dapat menjual barang yang terlihat “tidak seksi” tetapi dapat membuat dunia ini menjadi lebih baik.
dont-follow-your-passion Hal tersebut seperti yang kita lihat pada Braintree, sebuah perusahaan yang melakukan pemprosesan kartu kredit. Anda tidak akan bertemu dengan banyak orang yang mengklaim mencintai tugas memproses kartu kredit. Bahkan Bryan Johnson, pendiri Braintree mengatakan bahwa dia tidak terlalu bersemangat dengan perusahaan pemrosesan pembayaran tetapi dia memiliki passion untuk membangun perusahaan yang baik. Johnson mendapatkan kepuasan  dengan membuat pelanggan senang, menciptakan tempat kerja yang nyaman untuk karyawan dan dapat menciptakan industri yang baik.
Contoh berikutnya, InsuranceAgents.com yang menjual asuransi. Sangat sulit untuk dapat menemukan orang dengan semangat tinggi dalam bidang asuransi. Seth Kravitz dari InsuranceAgents.com mengatakan bahwa asuransi bukan industri yang menarik tetapi itu bukan berarti pekerjaan asuransi adalah pekerjaan yang tidak bermakna. Kita harus dapat menemukan cara untuk dapat membuat pekerjaan lebih menyenangkan. Dan dapat membuat lingkungan yang nyaman.
Kedua perusahaan ini telah berhasil melepaskan “passion” dan mengutamakan proses daripada passion.
Sayangnya Passion Memiliki masalah …
Pada bagian ini, terlihat meskipun ada keindahan di dalamnya, tetapi pasti ada masalah di balik passion. Untuk satu hal, passion dari kebanyakan orang tidak begitu unik. Itulah sebabnya mengapa begitu sulit seseorang untuk dapat sukses misalnya dalam bisnis restoran atau sebagai penari profesional. Anda dapat bersaing melawan orang lain dengan mimpi yang sama. Termasuk jika anda ingin mengubah passion dalam bisnis anda, itu adalah cara terbaik bagi anda. Anda mungkin mencintai musik, tetapi menjadi seorang kritikus musik , tentu anda harus mendengarkan ratusan album setiap bulannya. Termasuk sesuatu yang anda benci. Pada akhirnya, anda mungkin akan menemukan bahwa Anda tidak suka melakukan apa yang seharusnya Anda cintai. Kravitz mengatakan,” Saya suka membaca buku, tetapi saya tidak suka membuat resensi buku. Apa yang anda suka lakukan dalam kehidupan pribadi anda, seringkali tidak bisa diterjemahkan menjadi sebuah bisnis.”
Bagaimana Cara Mengatasinya ?
Jadi apakah ini berarti kita semua ditakdirkan untuk hidup dengan menggali kebosanan? Tidak ini adalah tentang passion. Sambil bekerja dengan hal yang anda suka, anda juga dapat berpikir tentang bagaimana untuk dapat bekerja dengan cara yang anda suka.
Amy Hoy mencoba mengulas tentang Don’t follow Your Passion. Berikut ini kutipan dari The Cute Little CafĂ© Syndrome:
“Jika anda ingin dapat menjalankan bisnis kafe yang sukses, dan menikmatinya, anda perlu untuk mencintai lebih dari secangkir kopi. Anda juga harus mendapatkan semacam kesenangan, bahkan kepuasan dari kegiatan sehari-hari Anda. Yang berarti tentu anda harus berinteraksi dengan pelanggan, mempekerjakan dan mengelola staf, menunggu , menangani kebutuhan sehari-hari seperti memesan bahan, membersihkan , membayar sewa, pemasaran dan berurusan dengan pelanggan yang ingin duduk di meja anda sepanjang hari hanya untuk minuman seharga $2.”
Anda dapat mendapatkan petunjuk dari contoh ini dan menjadi perusahaan seperti Braintree dan InsuranceAgents.com yang dapat berhasil. Anda dapat menemukan makna apa yang Anda lakukan. Bekerja untuk dapat meningkatkan usaha Anda. Anda bisa mendapatkan sukacita dari pelanggan. Anda dapat bertemu dengan beberapa orang di lingkungan yang ada. Anda juga dapat mengetahui rincian dan proses sehari-hari yang dapat membuat anda lebih termotivasi. Yang paling penting adalah bagaimana cara Anda menjual, bukan apa yang Anda jual.
Mungkin arti “passion” di sini tidak romantis dan tidak ideal, tetapi jika hal itu dapat memberikan Anda kegembiraan dan keuntungan, maka itu tidak jelek . Anda akan dapat berjalan jalan dan memiliki  waktu luang untuk dapat melakukan apa yang anda inginkan.


di Plek Dari alamat ini:,,
http://startupbisnis.com/lupakan-passion-fokuslah-pada-proses/

Marketing di Media Sosial : Bagaimana Bertahan Menghindari Red Ocean




Bukan menjadi rahasia lagi bahwa sosial media memang bisa dijadikan salah satu media marketing. Mulai dari UKM sampai brand-brand besar saat ini sudah melek mengenai social media marketing, termasuk mulai munculnya agensi-agensi digital marketing di Indonesia khususnya sosial media, yang akhirnya menimbulkan persaingan yang cukup ketat. Berbagai cara atau teknik mulai banyak diketahui orang yang akhirnya sebuah trik menjadi saturasi dan tidak stabil, akan tetapi poin pentingnya justru bukan di hal hal yang bersifat trik atau teknis tapi poin pentingnya adalah hal hal yang berkaitan dengan taktis dan strategis.
Kita tidak mungkin naik kelas, jika kita hanya fokus untuk menangani masalah-masalah yang sama. Saatnya, jika ingin naik kelas di dalam dunia bisnis maka pemimpin harus fokus kepada hal strategis dibandingkan teknis. Dengan demikian, maka kita dituntut untuk bisa mulai mendelegasikan hal hal teknis kepada orang lain. Jika sang pemimpin tidak naik kelas maka bisnisnya pun tidak akan naik kelas yang akhirnya tidak punya daya tahan atau daya saing dalam dunia bisnis.
Secara umum bagaimana cara kita bertahan dan memenangkan persaingan banyak di bahas di artikel lain, namun pada bahasan kali ini kita akan fokus bagaimana menghadapi persaingan di social media, berikut adalah tips nya :
  • Shortcut knowledge atau pembelajaran mengenai trik-trik di sosial media kepada orang – orang yang memang sudah ahli dalam dunia social media marketing, sehingga anda tidak disibukkan dengan trial dan error di social media, ingat trial dan error itu membutuhkan cost dan waktu yang tidak sedikit. Fokuslah pada cara atau trik yang memang sudah terbukti berhasil. Seringkali trik yang terbukti berhasil di sosial media adalah trik yang sederhana yang tidak rumit sama sekali.
  • Fokus pada niche atau ceruk pasar yang memang anda sudah punya passion, dengan begitu maka yang anda kejar bukan uang semata, tapi ada value yang anda berikan secara ikhlas untuk pada audience , fans atau follower anda.
  • Di tengah tengah era informasi yang terbuka, orang mulai mudah untuk mencari alternatif baru kuncinya adalah responsif dan adaptif terhadap market. Mau tidak mau anda harus mulai berpikir untuk membangun team, karena untuk responsif dan adaptif biasanya harus ada orang yang fokus menanganinya.
  • Bangun engagement yang sangat kuat, dengan konten dan apresiasi secara personal, misalnya memberikan ucapan ulang tahun kepada mereka. Buatlah mereka gembira, atau sekali kali adakan acara kopi darat atau gathering dengan mereka.
  • Jadikanlah komunitas di sosial media sebagai partner anda, jangan hanya dipandang sebagai target market saja, dengan begitu market akan respect kepada bisnis anda.
  • Selau berpikir kreatif dan inovatif. “bisnis yang berbasis kreatifitas dan inovasi tidak mengenal persaingan” itulah quote yang disampaikan oleh Joseph ”MR. JOGER” Theodorus Wulianadi Pemilik Joger T-Shirt Bali. Teruslah hasilkan ide – ide cemerlang untuk bisnis yang dilakukan baik dari segi produk dan cara memasarkannya. Jangan sampai market memandang anda sebagai perusahaan yang kuno, yang akhirnya nanti kalah dengan pesaing yang membawa hal baru. “Berpikirlah seliar mungkin , berpikirlah sekreatif mungkin , berpikirlah sebeda mungkin , tapi pada saat mengeksekusi gunakanlah otak kiri dan dalam keteraturan” begitulah nasihat yang disampaikan oleh salah satu pakar kreatif marketing Yoris Sebastian dari OMG.
  • Jangan hanya puas dengan fans yang sudah terkumpul, cepat buat database mandiri karena Facebook , Twitter bukanlah milik anda, sewaktu – waktu anda kena banned atau hal – hal lain, maka akan sulit untuk memulainya dari awal. Kalau ini sudah dilakukan maka akan mudah sekali kita membangun jalur marketing tanpa sosial media, kita bisa mengucapkan hari – spesial mereka bisa menggunakan sms dan alat komunikasi lainnya.
Semoga Bermanfaat dan Menginspirasi Anda

DI PLEK DARI ALAMAT INI:..
http://startupbisnis.com/marketing-di-media-sosial-bagaimana-bertahan-menghindari-red-ocean/
Blue Red